/
Iman kepada Takdir (Kitab Lum'atul I'tiqad)| Ustadz Muhammad Rezki Hr, ST, M.Eng., Ph.D
Kitab Lumatul Itiqad - Ustadz Muhammad Rezki Hr, Spesialis Productive Muslim Hafidzahullahu Ta'ala
Video Kajian
Jika video tidak dapat diputar, silakan Tonton di YouTube.
Tentang Kajian Ini
Kajian pertemuan ke-3 dalam seri Kitab Lumatul Itiqad yang membahas tentang iman kepada takdir (kitab lum'atul i'tiqad)| ustadz muhammad rezki hr, st, m.eng., ph.d. Ustadz Muhammad Rezki Hr, Spesialis Productive Muslim memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.
Isi Ceramah Lengkap
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaikalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
nahmaduhuuhuagfiruh wa naubillahi minuri anfusina waiati
aalinaahdihillahu Fala mudillalah Wam yudlil Fala hadiyaalah wa Ashadu Alla
ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa Ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh
Sallallahu Alaihi wa ala alihi wasahbihi Wasallam
ikhwani fillah wa akhwati fiddin bapak-bapak ibu-ibu para hadirin dan
hadirat para pemirsa rahimaniahimakumullahuan Alhamdulillah
kita kembali diberikan kesempatan Oh Allah subhanahu wa taala untuk bisa melanjutkan majelis kita mempelajari
kitabatul langsung saja di malam hari ini kita akan melanjutkan kembali pelajaran
kita yang mana pada malam hari ini kita akan masuk ke bab yang baru yaitu
masalah iman terhadap
takdir setelah sebelumnya kita membahas tentang sifat kalam Allah lalu kita
berpindah terakhir membahas tentang rukyatullah keimanan kita bahwasanya
kita semua akan melihat Allah subhanahu wa taala nanti di negeri akhirat Sekarang kita akan membahas masalah
takdir yang ini adalah pembahasan yang sangat
penting di antara hal yang menunjukkan pentingnya pembahasan tentang takdir adalah kejadian nyata di zaman
dulu Ketika ada seorang yang bernama mabad aljuhani seorang yang pertama kali di
negeri Irak di kota Basrah dia menolak takdir mengaku sebagai seorang
muslim namun dia menyuarakan yang namanya takdir itu tidak ada dan dia memiliki banyak
pengikut dia hidup di zaman tabiin maka oleh sebagian tabiin dikadukan tentang
perkara mabad aljuhani ini kepada Abdullah bin Umar mereka sengaja mencari
sahabat bertemu dengan Abdullah bin Umar mengadukan tentang perkara mabad
aljuhani pergi ke kota Madinah ketemu dengan Abdullah bin Umar di kota Madinah
meminta fatwa tentang Bagaimana kita merespon orang yang menolak takdir ini
maka kata Abdullah bin Umar di antaranya jawaban Abdullah bin Umar kata Abdullah bin
Umar seandainya orang tersebut dia berinfak misla uhudin zahaban dia
berinfak sebesar gunung uhud berupa emas maka kata Abdullah bin Umar Allah
tidak akan mau menerima infaknya tersebut sampai dia mau beriman dengan
takdir maka Barang siapa yang menolak konsep takdir tidak mau beriman dengan
takdir Allah tidak akan menerima amalnya seluruhnya meskipun dia orang yang rajin
beramal Memiliki amal yang sangat banyak Allah tidak akan menerima amalnya sampai
dia mau beriman dengan takdir lalu kemudian Abdullah bin
Umar membawakan hadis Jibril jadi konteksnya hadis Jibril yang terkenal
itu itu adalah konteksnya ketika Abdullah bin Umar dimintai fatwa
Bagaimana kita merespon orang-orang yang menolak takdir ini lalu dibawakan oleh Abdullah bin Umar hadis
Jibril ini di antara poin ya poin yang pertama yang
menunjukkan tentang pentingnya bagi kita untuk belajar tentang
takdir lalu yang kedua yang menunjukkan tentang pentingnya belajar takdir tentang takdir
adalah apa yang diucapkan oleh ulama kita yaitu Syekh Muhammad bin shh
al-utimin rahimahullah taala ada sebuah perkataan yang sangat baik bagi beliau yang perkataan ini saya
kira perlu untuk kita gaungkan di zaman ini
kita baca terlebih dahulu kata Syekh
ah k Muhammadin tidak ada orang yang lebih
baik kehidupannya lebih Tam jiwanya dan lebih kuat
ketenangannya melebii orang-orang yang mereka beran terhadap
takdir ulangi tidak ada orang yang lebih baik kehidupannya lebih tentram jiwanya
dan lebih kuat ketenangannya melebihi orang-orang yang beriman terhadap takdir
Allah subhanahu wa taala maka ini di antara faedah ya beliau menyampaikan
poin ini kalimat ini beliau sampaikan ketika beliau membahas tentang apa
faedahnya ketika kita beriman dengan takdir di anara faedah beriman terhadap
takdir adalah akan mend datangkan ketenangan terhadap hidup kita saya
katakan Konsep ini atau pemahaman seperti ini perlu kita resonansikan sekarang perlu kita gaungkan
sekarang di zaman di mana masalah kesehatan mental ya penyakit-penyakit
kejiwaan itu semakin merebak
Pak saya tidak tahu apakah bapak-bapak di sini terkhusus yang tinggal di sekitar sini mendengar isu-isu masalah
depresi masalah keinginan untuk bunuh diri kami pak di sekitar kampus Ini
masalah yang sekarang secara rutin muncul kasus-kasus mengenai gangguan
mental bahkan sekarang tingkat bunuh diri meningkat ya baru-baru Ini ada dua
kasus Pak dalam hitungan bulan dalam satu bulan belakangan di sekitar UGM di
sekitar Pogung tempat kami tinggal di sana ada dua kasus orang kemudian bunuh
diri maka kita tidak pastikan seluruhnya bahwasanya orang-orang yang
mereka memiliki gangguan mental depresi punya kecenderungan untuk bunuh diri
kita tidak katakan mereka pasti mereka tidak beriman dengan takdir tidak namun ada peluang besar karena di sana ada
kaitannya masalah keimanan terhadap takdir dengan bagaimana seseorang itu dia memandang berbagai problematika yang
ada dalam kehidupannya karena sekali lagi kata berdasarkan kata perkataan Syekh Muhammad bin salin tadi yang kami
kutipkan di awal orang-orang yang mereka beriman dengan takdir mereka memiliki ketenangan jiwa yang luar biasa itu
jugalah yang dikatakan oleh syikhul Islam Ibnu Taimiyah kata syikhul Islam Ibnu Taimiyah orang-orang beriman mereka
yakin bahwasanya apa yang dipilihkan oleh Allah subhanahu wa taala bagi diri mereka itulah yang paling baik ya
orang-orang mereka yakin apa yang dipilihkan oleh Allah subhanahu wa taala bagi diri mereka itulah yang terbaik
bagi mereka sehingga Apun yang terjadi dalam kehidupan mereka tentunya setelah mereka berupaya setelah mereka berusaha
lalu Apun hasilnya yang mereka dapati mereka yakin itulah yang terbaik bagi
mereka Maka inilah pentingnya bagi kita semua untuk
beriman kepada takdir tentunya dengan keimanan yang benar an yang
benar maka akan kita bahas di sini apa yang disampaikan oleh Ibnu quzamah
almaqdisi tentang Bagaimana harusnya kita beriman terhadap
takdir sebagaimana pembahasan-pembahasan
sebelumnya kalimat perkimat yang disampaikan oleh Ibnu qudamah nanti yang akan kita baca itu semua ada maknanya
Pak itu semua ada latar belakangnya Kenapa beliau menjelaskan seperti itu
Apa latar belakangnya karena adanya kekeliruan-kekeliruan yang dimiliki oleh
sekelompok orang ketika mereka berbicara tentang takdir maka di nanti apa yang akan kita
bahas kita berfokus pada sebagaimana yang semestinya Bagaimana semestinya
kita beriman terhadap takdir kita fokus untuk membahas hal tersebut kalau kita cari Kenapa Ibnu qudamah mengatakan
seperti ini nanti ada latar belakangnya karena ada penyimpangan demikian dan demikian dan demikian kita tidak fokus
membahas penyimpangannya itu seperti apa saja kita tidak fokus kita hanya berfokus Bagaimana keimanan yang benar
saja ya kalau kita mau cari satu persatu ada latar belakangnya itu ada Namun kita
tidak akan fokus membahas ke sana namun secara umum saya sampaikan terlebih dahulu ada dua penyimpangan utama dalam
masalah takdir ada dua penyimpangan utama dalam masalah takdir
ada dua kelompok utama yang mereka keliru dalam pemahaman terkait
takdir kelompok yang pertama atau pemahaman yang pertama italah pemahaman
yang disebut dengan pemahaman Jabariah Apa itu pemahaman Jabariah yaitu
orang-orang yang mereka berkeyakinan bahwasanya yang namanya makhluk kita
semua itu dipaksa oleh takdir Allah subhanahu wa taala ya bergerak saya berbicaranya saya
ini dipaksa oleh takdir Allah manusia tidak memiliki kehendak sama sekali tidak memiliki pilihan sama sekali semua
segala sesuatu yang terjadi itu semua berdasarkan takdir Allah dan kita dalam kondisi terpaksa bergeraknya kita
digerakkan oleh Allah memilihnya kita Dipilihkan oleh Allah subhanahu wa taala
ini pemahaman keliru yang pertama Pak segala sesuatu itu dipaksa oleh Allah dipaksa oleh takdir Allah pemahaman
jabari lalu pemahaman yang kedua yang juga
pemahaman keliru kebalikannya kutub ekstrem yang berada pada sisi yang lainnya itulah yang disebut dengan
pemahaman qadariah Apa itu pemahaman qadariah
qadariah memiliki keyakinan bahwasanya tidak ada
takdir kita semua bebas tanpa ada campur tangan takdir
Allah semua manusia itu berdiri bebas tanpa ada keterikatan dengan takdir
Allah ini pemahaman qadariyah di antara tokohnya tadi yang saya Sebutkan yang sudah muncul di zaman para tabiin yaitu
mabad aljuhani gembongnya ada di negeri irakq di kota kufah Maaf di kota Basrah
ketika itu Nah maka di antara konsekuensinya Pak nanti ya ini saya singgung sekarang
nantib Ibnu qudamah akan menyebutkan bahwasanya yang namanya Amal yang yang
namanya perbuatan itu adalah ciptaan Allah perbuatan hamba itu termasuk
makhluk Allah termasuk ciptaan Allah para ulama mereka senantiasa
membahas hal seperti ini bahkan Al Imam albukhari sampai punya kitab khusus
berjudul khqu afalil Ibad beliau mengumpulkan berbagai hadis
yang dalam rangka untuk menyimpulkan bahwasanya yang namanya perbuatan hamba
amal seorang hamba itu adalah ciptaan Allah subhanahu wa taala kenapa sampai ada pembahasan
seperti ini karena di antara pemahaman turunan dari pemahaman ee qadariyah kata
qadariyah yang namanya perbuatan hamba itu adalah ciptaan hamba perbuatan hamba adalah ciptaan
hamba itu sendiri demikian di antara pemahaman qadariyah makanya para ulama kemudian
mereka sampai secara spesifik menyebutkan membuat kalimat di antaranya Ibnu qudamah nanti akan menyampaikan
kalimat yang namanya perbuatan hamba itu adalah ciptaan Allah subhanahu wa
taala akan kita bahas barangkali kita akan menyelesaikannya pembahasan yang
disampaikan oleh Ibnu qudamah di sini kita akan membahasnya dalam dua pertemuan Insyaallah kita baca kata Ibnu
qudamah di sana Wamin sifatillahi taala annahu fa'alu lima
yurid di antara sifat Allah Taala adalah Bahwasanya Allah subhanahu wa taala Dia
Maha berbuat sesuai dengan kehendaknya Ya Allah Maha berkehendak Ya
Allah Maha melakukan apa yang dikehendaki hleh Allah subhanahu wa
taala tidak ada terjadi Apun kecuali dengan kehendaknya sehinggaala sesuatu
itu terjadi dengan kehendak Allah subhanahu wa taala Nah jadi Sebelum kita lanjutkan barangkali Sudah ada Bapak Ibu
yang bertanya tadi Ketika saya Sebutkan Jabariyah mereka memiliki
anggapan makhluk itu dipaksa oleh takdir Allah Adapun qadariyah mereka memiliki anggapan tidak ada takdir kita semua
bebas dalam memilih lalu Bagaimana bentuk komprominya Bagaimana sesungguhnya ahlusunah Wal Jamaah
berkeyakinan maka ahlusunah Wal Jamaah berkeyakinan takdir itu ada kita wajib
untuk beriman dengan takdir ketetapan Allah subhanahu wa taala itu
ada Ini satu kedua kita juga berkeyakinan bahwasanya kita semua
memiliki pilihan Pak kita semua dibebaskan oleh Allah subhanahu wa taala untuk
memilih bebas mau beriman mau kafir kita memiliki kehendak untuk
memilih mau bermaksiat mau taat Itu semua adalah pilihan kita namun segala
yang kita pilih itu tidak mungkin akan terwujud kecuali kalau berkecocokan
dengan kehendak Allah subhanahu wa taala berkecocokan dengan apa yang telah Allah tetapkan tidak mungkin bisa terwujud
kalau tidak berkecocokan
yaall mereka itu tidaklah berkehendak kecuali kalau Allah juga berkehendak
sehingga Kalau bertemu kehendak kita dengan kehendak Allah baru akan terwujud
ya Sehingga itulah dia jalan tengahnya kehendak Allah itu ada takdir Allah itu ada dan kita juga semua
memiliki pilihan bukanlah kita ini sesuatu yang dipaksa oleh Allah subhanahu wa taala dalam kita bertindak
tanduk dalam kita berperilaku dalam kita berbuat itu semua bukanlah atas paksaan
Allah subhanahu wa taala Allah memberikan kita kemampuan Allah memberikan kita kebebasan kemampuan
untuk berpikir kemampuan untuk menentukan
maka terkait perkataan Ibnu qudamah almaqdisi di sana La yakunu saaiun illa
biirodtihi tidak ada segala sesuatu apapun yang terjadi kecuali dengan
kehendaknya maka di sini kita akan sampaikan pembahasan terlebih dahulu tentang
iradatullah Bapak Ibu sekalian ya ini di antara titik tengahnya ya yang
menunjukkan tentang bagaimana akidah ahlusunah Wal Jamaah itu adalah akidah pertengahan di antara akidah Jabariyah
dan akidah ee qadariyah tadi adalah dalam permasalahan iradatullah masalah
kehendak Allah baik perlu kita ketahui bahwasanya
kehendak Allah itu ada dua jenis Pak kehendak Allah itu ada dua
jenis kehendak Allah yang pertama itulah yang disebut dengan iradah
kauniah kehendak Allah yang bersifat kauniah Apa itu kehendak Allah yang
bersifat kauniah itulah segala sesuatu yang terjadi di dunia
ini segala sesuatu yang ter jadi di dunia ini Itu semua terjadi hanya atas
kehendak Allah dan itu tidak menunjukkan Bahwasanya Allah Rida terhadap hal
tersebut ya Saya ulangi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini itu semua atas
kehendak kauniah atas kehendak kauniah
Allah inilah yang Allah firmankan dalam Alquran misalnya Allah sebutkan dalam
surah Yasin innama amruhu
aranquahu Kun Fayakun kata Allah subhanahu wa taala sesungguhnya perintah
Allah itu apabila Allah menghendakinya apabila Allah menghendaki
sesuatu maka Allah akan berkata jadilah maka akan jadi Jadi maksudnya kalau
Allah berkehendak dengan kehendak kauniah ini maka pasti akan
terjadi tidak mungkin akan terjadi sesuatu tanpa kehendak kauniah Allah ini
kehendak Yang pertama iradah kauniah namanya ada iradah yang kedua yang
disebut dengan iradah syariah kehendak Syari sesuatu yang dikehendaki oleh
Allah subhanahu wa taala secara syari kehendak ini adalah sesuatu yang
dicintai oleh Allah subhanahu wa taala ya kehendak ini adalah sesuatu
yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala saya sebutkan contohnya misalnya kata Allah subhanahu wa taala wallahu
yuriduatuba alaikum Allah itu menghendaki untuk
menerima Taubat kalian Allah menghendaki
untuk menerima kehendak
kalian ini contoh iradah ka iradah Syariah jadi iradah Syariah itu adalah
sesuatu yang dicintai ole oleh Allah subhanahu wa taala ya Jadi langsung saja Pak kita sebutkan
contohnya misal benar atau tidak kalau kalau kita
katakan ada orang mencuri maka orang mencuri tersebut atas kehendak Allah
subhanahu wa taala benar atau tidak kalimat tersebut orang tersebut dia
mencuri atas kehendak Allah benar atau tidak kalimat
tersebut benar kalau yang kita maksudkan adalah kehendak
kauniah karena tidak mungkin ada terjadi sesuatu di dunia ini kecuali atas izin
Allah dia terjadi seperti itu artinya Allah menghendakinya untuk
terjadi namun hal tersebut tidak menunjukkan Bahwasanya Allah meridai dan mencintai
orang mencuri
tersebut itu yang disebut sebagai iradah kauniah ini kehendak Allah subhanahu wa taala namun tidak tidak bermakna Allah
mencintai dan meridai hal tersebut ya Adapun misalnya Adapun terkait iradah
Syariah itu belum tentu terjadi Allah menghendaki demikian namun belum tentu
terjadi Allah menghendaki hamba-hambanya itu beriman Allah menghendaki
hamba-hambanya itu mendapatkan petunjuk allah menghendaki hamba-hambanya itu
bertaubat ya lihat Pak Allah apa yang Allah
firmankan dalam surat alfajr
ininaamubum jahanam walumab tentang Ashabul ukdud Pak
perbuatan Ashabul ukhdud itu mereka membakar orang-orang yang
beriman hanya karena iman mereka mereka tahu manusia manusia ini beriman kepada
Allah mereka azab mereka siksa dan mereka buat Parit lalu mereka masukkan
ke dalam pari itu mereka bakar hidup-hidup ini perbuatan Ashabul
ukhdud lalu kata Allah subhanah
ininaminat orang-orang yang seperti itu yang berbuat seperti itu terhadap orang-orang yang beriman dari kalangan
laki-laki dan perempuanamatubu lalu mereka tidak bertobat kata Allah Subhanahu Wa
taalaahumabu jahanam wumabul Har bagi mereka azab jahanam dan bagi mereka azab
yang pedih lihat kata Hasan albasri perhatikan ketika alhan albasri
menafsirkan ayat tadi kata al-han albasri perhatikanlah oleh kalian betapa besarnya kasih sayang Allah subhanahu wa
taala Allah masih menunggu tbat dari mereka ketika Allah subhanahu wa taala
mengatakanamatubu ya orang-orang Ashabul ukhdud ini ketika mereka mengazab orang-orang
beriman kalau kata Allah subhanahu wa taala kalau mereka itu tidak bertaubat maka baru Allah akan mengazab mere
mereka artinya Allah masih menunggu tobat mereka Allah masih menunggu tobat
mereka tapi mereka tidak bertobat barulah mereka berhak untuk mendapatkan azab jahanam kata al-han albasri
perhatikanlah betapa pemurahnya Allah subhanahu wa taala betapa penyayangnya Allah subhanahu wa taala terhadap hamba-hamb-anya demikian lancangnya
mereka mengazab orang-orang beriman membakar orang-orang beriman tapi Allah masih
menunggu tbat mereka Nah Lihat dalam kasus ini Allah berkehendak Allah
menghendaki para pelaku maksiat ini orang-orang yang membakar orang-orang beriman ini Allah menghendaki mereka
agar bertaubat tapi tidak terwujud mereka sendiri yang memilih
untuk tidak bertobat makanya kemudian mereka berhak untuk mendapatkan azab
Allah subhanahu wa taala maka ini yang yang disebut dengan iradah syariah sesuatu yang diinginkan oleh Allah
subhanahu wa taala sesuatu yang dicintai dan diridai oleh Allah subhanahu wa taala namun dia belum tentu terwujud
Allah menghendakinya namun dia belum tentu terwujud ini disebut sebagai
iradah Syariah nah sehingga kita kembali lagi kata Ibnu qudamah almaqdisi di
sana La yakunu saaiun illa biirtihi tidak ada segala sesuatu yang terjadi
kecuali dengan kehendaknya maka Kehendak di sana yang dimaksudkan oleh penulis yaitu kehendak kauniah iradah
kauniah wuntihi tidak ada sesuatuun yang keluar
dari keinginan Allah Subhanahu Wa
taalaamunak tidak ada Apun di alam semesta ini yang bisa keluar dari
takdirnya Tidak ada mungkin tidak tidak mungkin yang ada tidak mungkin ada yang
mampu keluar dari takdir Allah subhanahu wa taala
tidak ada yang bersandar kecuali dari pengaturannya W
mahqar
alduri tidak ada yang meliputi takdir yang ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa
taala
W dan tidak ada yang bisa melampaui apa-apa yang telah tertulis di dalam
Lauhul mahfuz aramu
failu dia menghendaki ya Saya kira terjemahnya keliru Di sana
saya cek terlebih dahulu terkait
makna arod Mal alamu
fa'iluhu ya jadi dia menghendaki Apa yang dilakukan oleh alam semesta ya jadi
maknanya adalah dia menghendaki apa yang diinginkan oleh alam semesta Jadi apapun
yang terjadi apapun yang dilakukan di alam semesta ini itu semua atas kehendak
Allah subhanahu wa taala w asahum l khfahu seandainya Allah
ingin menjaga mereka Maka mereka tidak akan bisa menyelisihinya ya kalau Allah ingin mewujudkan sesuatu maka tidak akan
ada yang bisa menyelisihinyauanu seandainya Allah
subhanahu wa taala berkehendak seluruh makhluk itu taat kepada Allah subhanahu wa taala maka
pasti mereka semua akan mentaati Allah Subhanahu Wa
taalaqq waum nah ini yang menjadi e pelajaran penting juga kata Ibnu
quudamah Allah menciptakan makhluk Dan juga perbuatan mereka
seluruhnya jadi ini di antara akidah kita pak Kita semua adalah ciptaan Allah
perbuatan kita juga adalah ciptaan Allah subhanahu wa taala Allah subhanahu wa taala firmankan
terkait hal tersebut sangat jelas sekali Allah firmankan wallahu khalaqokum walun
dalam surah assfat ayat 96 kata Allah subhanahu wa taala Allahlah yang
menciptakan kalian dan juga yang menciptakan apa yang kalian perbuat
Allahlah yang menciptakan kalian dan juga menciptakan apa yang kalian
perbuat sehingga ini akidah kita ahlusunah Wal Jamaah
tidak seperti akidahnya qadariyah ya di anara akidah qadariyah karena mereka tidak beriman dengan adanya takdir
mereka mengatakan bahwasanya kita semua adalah ciptaan Allah manusia adalah
ciptaan Allah namun perbuatan hamba perbuatan manusia itu Bukan ciptaan Allah ini di antara akidah
qadariah waqadar arzaqahum waahum Allahlah yang telah
mentakdirkan tentang rezeki para hamba dan Allahlah pulalah yang telah
mentakdirkan ajal mereka yahdiasya birahmatihi Allah
memberikan petunjuk bagi siapa-siapa saja yang dia kehendaki dengan kasih
sayangnya dan Allahhu ta menyes siap yang diendinya unuk Ses
himnya Allah subhahu wa taal
berfirman ta ditanya tentang
ketetapan-ketetapannya akan tetapi merekalah yang akan ditanya yaitu kita semua para hambalah yang akan ditanya
oleh Allah subhanahu wa taala Allah subhanahu wa taala juga berfirman Inna
kulla saiin khalaqnahu biqadar segala sesuatu kami ciptakan sesuai dengan
takdir-takdirnya ya maka ayat ini sangat jelas sekali menunjukkan bahwasanya
takdir itu ada qadariyah ketika mereka menolak takdir Artinya mereka
mengingkari alqamar ayat 49 ini ya di antara yang diingkari oleh qadariyah
ketika mereka Menolak adanya takdir mereka ingkar dengan firman Allah subhanahu wa taala alqamar 49
innainqnahu biqar Sesungguhnya kami ciptakan segala sesuatu dengan takdirnya
Allah subhanahu wa taala juga berfirman wqqdarudir dan kami dan dialah yang
menciptakan segala sesuatu dan yang menentukan takdir-takdirnya ya secara jelas Allah
katakan Allahlah yang menciptakan segala sesuatu sekaligus dengan
takdir-takdirnya Jadi segala sesuatu itu sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa taala
takdirnya Allah subhanahu wa taala juga berfirman Ma Asa musibatin F Ardi W Fi
anfusikum
Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya tidak ada musibah Apun di muka bumi dan tidak pula pada diri kalian
melainkan hal tersebut telah tercatat Di dalam kitab Lauhul Mahfud sebelum kami
menciptakannya sehingga di sini juga jelas sekali Allah menjelaskan tentang
adanya ketetapan segala sesuatu itu telah Allah takdirkan di dalam Lauhul
mahfuz ya Sehingga di sini kalau kita kompromikan ayatnya di sini Allah
sebutkan Ma asoba musibatin fil Ardi W Fi anfusikum illa Fi kitab segala
musibah yang terjadi itu kata Allah subhanahu wa taala entah itu terjadi di bumi atau pada diri kalian itu semua
sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa taala di dalam Lauhul mahfuz sudah dituliskan satu ayat menyatakan Kakan
demikian ayat lain Allah sebutkan ma ma asobakum Min musibatin fabima kasabat
aidikum ya segala
sesuatu musibah yang menimpa kalian kata Allah subhanahu wa taala itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri
kalian yang melakukannya kalian yang memilihnya maka kalian Kemudian ditimpakan oleh musibah maka perhatikan
musibah di satu sisi Allah katakan itu semua sudah takdir namun di tempat lainnya Allah subhanahu wa taala mengatakan musibah itu disebabkan oleh
perbuatan tangan kalian sendiri sehingga itulah dia akidah kita semua takdir
Allah itu ada dan kita semua diberikan pilihan oleh Allah subhanahu wa taala kita semua diberikan kebebasan oleh
Allah subhanahu wa taala untuk memilih untuk berbuat dengan keinginan kita
namun itu semua tidak akan terwujud kecuali kalau berkecocokan dengan takdir
Allah subhanahu wa
taala Allah subhanahu wa taala juga berfirmanuridillahu ayahdiahu
yasrahodrahu Lil Islam wamurid ayudillahu
yajaladrahuqan Hara Barang siapa yang Allah menghendaki
akan memberikan kepadanya petunjuk maka Allah akan melapangkan dadanya
untuk menerima agama Islam dan barang siapa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa taala kesesatan atasnya
niscaya Allah akan menjadikan dadanya sesak lagi sempit seolah-olah Dia sedang
mendaki ke langit kemudian Ibnu Jibril
alaihambiallahu Alaihi Wasallam diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwasanya Jibril pernah bertanya kepada nabi kita
Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam tentang Apa itu iman ya Jibril pernah
bertanya kepada nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam tentang Apa itu iman ya pada hadis Jibril hadis
Jibril hadis yang terkenal Namun kita baca lagi ketika nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ditanya oleh
Jibril Apa itu iman nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam menjawab antuminaa Billahi wa malaikatihi wa
kutubihi wa rasulihi Wal Yaumil akhiri waabilqadari khairihi wa syarriihi
nabi ketika ditanya tentang iman beliau menjawab yang namanya Iman engkau beriman kepada Allah kepada para
malaikatnya kepada kitab-kitabnya kepada para rasulnya kepada hari akhir dan
kepada takdir yang baik maupun yang buruk kemudian Jibril menjawab kamu
telah menjawab dengan benar maka di sana nabi menjelaskan tentang rukun iman di
anara rukun iman adalah engkau beriman kepada takdir baik itu takdirnya buruk
takdirnya baik atau takdirnya buruk kedua-duanya kita harus
mengimaninya waqal nabi shallallallahu Alaihi Wasallam Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda amantu bilqadari
khairihi waarrihi wa hulwihi waurrihi aku beriman kepada takdir yang baik
maupun yang buruk yang manis maupun yang pahit
jadi terkait hal ini perlu kita pahami ada istilah takdir yang baik dan
takdir yang buruk Pak namun ada juga istilah semua takdir
Allah itu baik ya sebagaimana tadi saya Sebutkan di anaranya sikhul Islam yang
mengatakan takdir Allah subhanahu wa taala itu bagi orang-orang beriman itulah yang terbaik bagi mereka takdir
Allah subhanahu wa taala bagi orang-or orang beriman itulah yang terbaik bagi mereka sehingga ada
ungkapan takdir Allah itu semuanya baik namun dalam hadis kita mendapatkan takdir itu ada yang baik ada yang buruk
Bagaimana bentuk komprominya maka bentuk komprominya adalah takdir itu baik dan buruk kalau
kita melihat dari sisi hamba kalau kita melihat dari sisi hamba maka takdir itu
ada yang baik ada yang buruk Ketika seseorang itu dia diberikan kesehatan
maka ini bagi dia takdir yang baik ketika dia diberikan penyakit diberikan
musibah diberikan kemiskinan ini takdir yang tidak baik bagi dirinya dari sudut
pandang hamba ini takdir baik ini takdir buruk Adapun dari sisi allah subhanahu
wa taala seluruh takdir itu semuanya baik seluruh takdir itu semuanya baik
tidak ada yang buruk atas perbuatan Allah subhanahu wa taala jadi misalnya
tadi dalam hal yang buruk bagi bagi seorang hamba itu juga baik dalam sudut
pandang ini perbuatan Allah subhanahu wa taala misalnya ketika seorang hamba itu dia diberikan penyakit oleh Allah
subhanahu wa taala itu sesuatu yang baik bagi dia karena Allah ingin menggugurkan dosa-dosanya ketika seorang itu dia
diberikan musibah maka ini juga adalah perbuatan yang baik dari Allah subhanahu wa taala karena Allah ingin mengampunkan
dosa dosanya Ketika seseorang itu diberikan kemiskinan oleh Allah subhanahu wa taala maka ini juga adalah
sesuatu yang baik dari Allah subhanahu wa taala karena Allah tahu Seandainya
dia diberikan kekayaan misalnya maka dia akan menyimpang maka dia akan berbuat
maksiat dengan kekayaannya tersebut maka seluruhnya dari sisi allah subhanahu wa taala adalah sesuatu yang
baik buruk atau baik itu hanya dalam sudut pandang seorang
hamba dan di antara doa Nabi S wasam Nabi
wasam Al Hasan ibnu Ali di anara doa yang diajarkan oleh
Nabi S wasam kepada cucu beliau alhan bin Ali yang doa ini dibaca dalam Qunut
Witir adalah doain jagalah aku dari keburukan apa
yang telah engkau takdirkan sehingga segala sesuatu itu sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa taala entah itu
baik ataupun buruk segala sesuatu itu merupakan bagian dari takdir Allah
subhanahu wa taala baik kita cukupkan demikian pembahasan tentang takdir kita
membaca apa yang disampaikan oleh Ibnu qudamah terlebih dahulu ya Ee pekan
depan Insyaallah akan saya coba jelaskan secara lebih sederhana ya kalau kita
mengikuti polanya Ibnu qudamah memang tidak terlalu berurutan sehingga saya tahu sebagian Bapak Ibu mungkin ada
yang kebingungan dari ee urutan yang disampaikan oleh Beliau ya Insyaallah akan saya coba susun lagi pada pertemuan
berikutnya dari apa yang beliau sampaikan ee di sana saya akan susun ulang dan saya sampaikan kepada Bapak Ibu sekalian pada pertemuan yang
berikutnya termasuk yang ini sering menjadi pertanyaan banyak
orang bolehkah seseorang itu dia berhujah dengan takdir Allah subhanahu
wa taala untuk berbuat kejelekan untuk berbuat maksiat
dia tidak salat lalu dia mengatakan saya kan tidak salat atas takdir Allah dia
tidak berpuasa dia bermaksiat lalu dia kemudian ketika dia ditegur Dia kemudian
berhujah atas perbuatannya tersebut dengan takdir Allah subhanahu wa taala maka akan kita coba Jelaskan hal
tersebut pada pertemuan yang berikutnya Insyaallah kita cukupkan demikian
mudah-mudahan Allah Berikan pemahaman wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam
subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik talamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh alhamdulillahm
wasallallahu ala Nabina Muhammad wa
ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa
atubu ilaik su asalamualaikum warahmatullahi mwabarakatuh
Mutiara Hari Ini
"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."