1

Video Kajian

Tentang Kajian Ini

Kajian pertemuan ke-7 dalam seri Kitab Bahjatu Qulubil Abrar yang membahas tentang sifat orang munafik (kitab bahjatu qulubil abrar). Ustadz Feri Septianto, Dosen PUTM & Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.

2

Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kitab Bahjatu Qulubil Abrar

Ustadz Feri Setianto حَفِظَهُ الله تعالى

🗓️ Rabu, 9 Juli 2025

🏢 Masjid Al Jamalah, Jl. Kabupaten, Sleman

Minggu lalu pembahasan tentang sifat orang Muslim.

Keselamatan seseorang terjadi karena bisa menjaga lisannya.

Siapa yang terakhir kali hidup mengucapkan laa ilaah illallah maka masuk surga.

Keselamatan kita terletak pada menjaga lisan.

Pembahasan kali ini hadits ketujuh membahas tentang sifat sifat (ciri-ciri) orang munafik.

Kita mempelajari keburukan bukan berarti untuk mengamalkannya tetapi agar kita tahu dan terhindar dari perbuatan buruk.

Manusia ada 3 golongan (awal surat Al Baqarah);

1. Mukminun, orang beriman.

2. Ghoyru mukmin atau kafir.

3. Munafik

Tentunya kita berharap menjadi orang mukmin yang Mukhlis/murni.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash; ada 4 hal yang apabila 4 sifat/ciri-ciri tersebut dalam diri seseorang maka orang tersebut munafik sepenuhnya. Dan barangsiapa yang memiliki salah satu saja sifatnya maka orang tersebut sudah termasuk orang munafik.

Sifat munafik:

1. Apabila diberi amanah maka orang tersebut berkhianat

2. Apabila berbicara dia dusta, yang dimaksud adalah sudah menjadi sifatnya, bukan dikenal sebagai orang yang jujur/lupa/tidak sengaja.

3. Apabila berjanji maka dia ingkar. Dan hal tersebut sudah menjadi sifat/kebiasaan.

4. Apabila sedang berselisih maka dia berlebihan, dzalim.

Itu adalah munafik dalam sifat amal.

Ada 2 jenis munafik:

1. Munafik amal

2. Munafik keyakinan.

Abdulloh bin Amr bin Ash adalah beliau bisa mencatat hadits hadits dari Nabi.

Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits tapi lewat hapalan dan Abdullah bin Amr bin Ash lewat tulisan.

Orang orientalis menuduh bahwa hadits ditulis tercatat pada abad 2 Hijriyah dengan maksud untuk menjatuhkan kesahan hadits. Padahal pada jaman Nabi sudah ada hadits yang tercatat seperti halnya dicatat oleh Abdullah bin Amr bin Ash.

Beliau adalah yang menanyakan kepada Nabi berapa hari sekali sebaiknya kita mengkhatamkan Al-Qur'an.

Jauhilah dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan menuntun kepada perbuatan buruk, dan perbuatan buruk menjadi sebab manusia masuk ke neraka.

Orang yang paling tenang adalah orang yang jujur.

Mutiara Hari Ini

Abu Zubair Hawaary

"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."

QS. Al-Jumu'ah (62:10)

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."