بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Hakikat Niat
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Rabu, 4 September 2024
🏢 Studio ANB Channel, Krajan, Yogyakarta
Pembahasan kajian sore ini tentang hakikat niat dan keutamaan memiliki niat yang baik, sebab niat seseorang itu beragam sehingga perlu diperhatikan tujuan seorang hamba itu beramal karena dia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya, dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
نَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Niat yang keliru bisa terjadi di majlis ilmu seperti ingin mencari kesalahan pemateri, ingin mendebat, atau ingin membuat gaduh majlis dengan melontarkan pertanyaan yang dapat mendangkalkan aqidah.
Tatkala seseorang di zaman Imam Malik datang dan masuk ke majelis ilmu beliau di Madinah sembari membaca ayat ini, kemudian dia bertanya “Bagaimana istiwa’ Allah Wahai Imam Malik” Seketika itu keluar keringat dingin Imam Malik rahimahullah. Beliau marah sembari menjawab dengan suara yang keras, mengatakan
لاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمانُ به واجِب، والسؤالُ عنه بدعة.
“Istiwa’ itu maknanya diketahui, bagaimana istiwa’nya tidak diketahui, mengimaninya wajib, menanyakan tentang kaifiyahnya suatu perkara yang bid’ah (karena tidak pernah ditanyakan oleh para sahabat kepada Nabi).”
Maka pentingnya mempelajari hakikat niat & keutamaannya karena kelak kita akan di hisab lahir dan batin di akhirat sebagaimana hadits berikut ini
ن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم«إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ».
[صحيح]
Musuh utama kaum liberal adalah kaum muslimin yang berpegang teguh dengan ajaran islam yang murni, berbagai cara mereka lakukan untuk mendangkalkan aqidah umat, maka hatinya selalu menghadirkan niat yang buruk. Sementara orang yang cenderung hatinya pada dunia maka tidak akan terdorong untuk memiliki niat akhirat, semisal bersedekah untuk mengharapkan balasan dunia, padahal Nabi ﷺ
نْ عدِيِّ بنِ حاتِمٍ رضي اللَّه عنه قال سمِعْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول « اتَّقُوا النار وَلوْ بِشقِّ تَمْرةٍ » متفقٌ عليه .
Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu anhu, katanya Saya mendengar Nabi ﷺ bersabda “Takutlah pada siksa neraka itu, sekalipun dengan memberikan sedekah potongan kurma.” (Muttafaq ‘alaih)
Wallahu 'alam