Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah
Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wassalamu ala asrofil mursalin nabiyina wa maulana Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain.
Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu warasuluh shallallahu alaihi wa ala alihi wasahbih waman tabial huda ila yaumil kiamah.
Allahumma la sahla illa ma ja'altahu sahlan wa anta taj'alul hasna idta syi'ta sahla.
Alhamdulillah kita memuji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala di kesempatan sore sini di Masjid Agung Sleman Yogyakarta kita bisa kumpul bareng dalam rangka kajian menjelang berbuka puasa dan nanti yang akan kita bahas membandingkan antara hati yang hidup dan hati yang mati.
Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang makruf, "Ala wa inna fil jasadi mudhghatan, idza shaluhat shaluhat jasaddu kulluhu, wa idza fasadat fasadal jasadu kulluhu. Ala wahiyal qalbu."
Sesungguhnya dalam jasad manusia ada segumpal daging. Kalau baik-baik semua anggota badannya. Dan kalau jahat maka akan jahat semua anggota badannya. Ala wahiyal qalbu - Segumpal daging itu adalah alqalbu.
Abu Hurairah radhiallahu anhu ketika menjelaskan hadis ini, beliau mengatakan, "Alqalbu malikun wal a'du junuduhu." - Hati itu seperti raja. Sedangkan anggota badan manusia adalah pasukannya.
Dan alqalbu secara ukuran kecil. Namun dia bisa menampung semuanya.
Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika menjelaskan posisinya, Beliau pada saat menyebutkan tentang takwa, beliau mengatakan, "Ataqwa hahuna, attaqwa hahuna wa asyar ila sadri." Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini. Dan beliau berisyarat ke arah dada.
Sehingga benda yang kecil ini tapi dia bisa menampung semuanya. Dia bisa menampung rasa cinta, dia bisa menampung rasa takut, dia bisa menampung tawakal, dia bisa menampung benci, dia bisa menampung sifat A, sifat B, sifat C. Demikianlah kehebatan alqalbu.
Sehingga kalau ini baik, itu bisa mempengaruhi gerakan seluruh anggota badan. Karena itulah seorang mukmin harus punya perhatian besar mengenai arti penting dari kesehatan hati.
Selanjutnya,
Bapak Ibu yang dimulakan Allah Subhanahu wa taala.
Seperti yang kita tahu bahwa kondisi masing-masing batin seorang hamba itu berbeda-beda.
Ada batin yang hidup dan ada batin yang mati.
Dan insyaallah di kesempatan kali ini kita akan membandingkan sifat dari batin yang hidup dan sifat dari batin yang mati. Namun terlebih dahulu Anda bisa simak firman Allah Subhanahu wa taala di surah at-Taubah ayat 124.
Yang bawa mushaf silakan dibuka surah at-Taubah ayat 124.
Baik.
Di surah at-Taubah ayat 124 dan ayat 125.
Di antara ayat yang di situ membahas perbandingan antara hati yang hidup dan hati yang mati. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Wa izaa maaa unzilat Suuratun faminhum mai yaquulu aiyukum zaadat hu haazihii iimaanaa; fa ammal laziina aamanuu fazaadat hum iimaananw wa hum yastabshiruun".
"Wa ammal laziina fii quluubihim maradun fazaadat hum rijsan ilaa rijsihim wa maatuu wa hum kaafiruun".
Wa izaa maaa unzilat Suuratun - Apabila turun satu surat yang baru,
faminhum - di antara mereka yaitu orang-orang munafik.
Man - ada yang berkomentar, mayakulu - ada yang berkomentar.
ayyukum zaadat hu haazihii iimaanaa - Siapakah di antara kalian yang imannya bertambah dengan adanya surat ini?
Mereka berkomentar mempertanyakan tentang pertambahan iman antara satu munafik dengan munafik yang lain, dengannada nyindir, dengan nada nyinyir.
Ini coba lihat Muhammad baru saja dapat surat baru. Kalian sudah dengar belum? Ada enggak di antara kalian yang imannya bertambah disebabkan karena surat yang baru ini?
Sehingga mereka mempertanyakan itu dengan nada nyinyir.
Nyinyir terhadap apa? Terhadap Al-Qur'an.
Lalu Allah Subhanahu wa taala mengatakan,
"fa ammal laziina aamanuu fazaadat hum iimaananw wa hum yastabshiruun."
Adapun orang-orang yang beriman ketika datang surat baru, turun ayat yang baru, maka akan semakin bertambah
iman mereka.
Wahum yastabsyirun - Dan mereka gembira.
Wa ammalladzina fi qulubihim marad - Adapun orang yang ada penyakit dalam hatinya,
fazadatum rijsan ila rijsihim watatu wahum kafirun - Maka keberadaan surat yang baru tadi akan semakin menambah kotoran dalam hatinya.
Wamatu wahum kafirun - Dan mereka mati dalam kondisi kafir.
Baik,
Bapak Ibu yang dimulakan Allah Subhanahu wa taala.
Ayat ini menjelaskan tentang salah satu di antara contoh bagaimana sifat hati yang hidup dan hati yang penuh penyakit bahkan menjadi hati yang mati.
Allah Subhanahu wa taala membandingkan di mana respon mereka itu berbeda, terhadap ayat yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala.
Wahyu ini diturunkan oleh Allah seperti nutrisi bagi batin.
Dan hati yang sehat, dia bisa menyerap nutrisi itu dengan maksimal sehingga menjadi tenaga tambahan baginya. Ibarat badan yang sehat.
Orang itu kalau badannya sehat dikasih makanan yang enak rasanya gimana? Terasa enak.
Yang gurih terasa gurih, yang manis terasa manis, yang asin terasa asin. Sesuai dengan rasanya.
Sehingga dia bisa membedakan kalau seperti ini nasi, kalau yang kayak gini telur, yang kayak gini rasa ayam, yang seperti ini sambal pedas, keroso pedas, dia bisa merasakan. Kenapa? Karena dia sehat.
Tapi orang kalau dalam kondisi sakit semua terasa pahit. Sehingga dikasih nasi rasane pahit, dikasih ayam rasane pahit, kasih telur rasanya pahit, semua terasa pahit. Soto pahit, sate pahit, Siti tambah pahit karena dia dalam kondisi sakit.
Itulah gambaran yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa taala bagi hamba-Nya, bagaimana cara batin manusia menangkap nutrisi berupa wahyu yang Allah turunkan. Ada hati yang sehat dan ada hati yang sakit.
Saya pernah ketemu orang, Pak, usianya 80-an ke atas.
Sebenarnya waktu itu kita sedang jejer salat jemaah dan saya enggak bermaksud untuk bertanya, tapi beliau memperkenalkan diri.
Umurku wis 80 munggah 80 sekian.
Lalu beliau bilang, "Semua makanan rasanya hambar.
Mau mangan sego, mangan pitik, mangan ayam, makan ikan, semua rasanya hambar.
Wah, irit nek koyo ngene, Pak. " Karena kalau semua rasanya hambar, kan dia tidak perlu ngejar makanan yang enak.
Anda mau kasih dia pizza, Anda mau kasih dia donat, mau dikasih ayam goreng, mau dikasih sego goreng, rasanya podo. Allah Subhanahu wa taala mencabut indra perasa, indra pengecapan dalam dirinya, di usia 80 sekian tahun.
Tapi ini kan kondisinya tidak normal.
Alhamdulillah kita dalam kondisi normal bisa menikmati itu semuanya.
Baik,
Selanjutnya kita kembali dalam konteks pembicaraan masalah hati. Di surah at-Taubah 124-125, Allah menjelaskan tentang bagaimana hati yang mati dan hati yang hidup. Allah mengatakan, "Faammalladzina amanu fazadathum imanan wahum yastabsyirun."
Adapun orang yang beriman ketika mereka mendapatkan ayat yang baru, mereka mendapatkan surat yang baru, fazadatum imana, maka iman mereka semakin bertambah. Wahum yastabsyirun. Dan mereka semakin gembira.
Maksudnya begini, Pak. Terkadang ada orang diberi penjelasan tentang hukum agama, penjelasan tentang masalah agama. Dia ini merasa seperti mendapatkan sesuatu yang berharga. Wah, ini ilmu baru ini. Terima kasih, Pak Ustaz. Matur nuwun. Saya baru ngerti kalau ternyata seperti ini ndak boleh.
Saya baru ngerti kalau ternyata seperti ini wajib. Saya baru ngerti ternyata seharusnya yang seperti ini aku lakukan. Dia gembira ketika mendapatkan itu sehingga saat dia mendengarkan sebuah tausiah baru seperti ada sesuatu yang dia makan. Maka pada saat itu dia mantuk-manduk. Oh koyo ngono. Oh itulah pengajian yang memberikan o efek. Efek apa? O.
Kalau Anda mengikuti pengajian, ngikuti acara apapun, lalu kemudian Anda mendapatkan o effect,
berarti itu iman yang bertambah. Di situlah iman yang bertambah. Oh,berarti selama ini saya keliru. Oh, berarti selama ini saya belum melaksanakan kewajiban itu. Itulah pengajian yang memberikan efek O.
Orang mukmin ketika mendapatkan itu makin gembira, senang dia. Bahkan kadang sampai berterima kasih. Terima kasih, Pak Ustaz. Baru kali ini saya tahu kalau ternyata selama ini saya keliru, saya salah. Dia berterima kasih. Padahal bisa jadi dalam kegiatan pengajian itu dia disalahkan. Dia berbenturan dengan apa yang dia dengarin. Oh, ternyata selama ini apa yang saya lakukan enggak benar. Tapi dia gembira.
Kalau Anda mengalami situasi seperti itu, bersyukurlah. Berarti imannya hakikatnya sedang bertambah. Pertambahan itu adalah pada saat Anda memahami sesuatu yang membuat Anda makin yakin mengenal lebih banyak lagi, makin tahu, makin sadar, itulah iman yang bertambah.
Makanya sahabat Muad bin Jabal radhiallahu anhu, kalau beliau ngajak orang lain untuk gabung pengajian, sahabat Muad mengatakan, "Haya numminu saatan, mari kita ngeces iman sesaat."
Sehingga hadir pengajian itu mendengarkan tausiah dari Al-Qur'an dan hadis, dari nasihat-nasihat para ulama itu seperti ngeces iman.
Hayminu saatan. Mari kita ngecas iman sesaat.
Sebaliknya, waadzina marunatum rijsan rijsihim wahum kafirun. Adapun orang yang punya penyakit dalam hatinya,
maka adanya penjelasan yang bersumber dari Al-Qur'an maupun hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam atau keterangan para ulama semakin menambah noda dalam hatinya.
Kok bisa, Pak?
Karena dia enggak terima. Sehingga kadang nyuwun sewu, ada sebagian orang kalau dengerin kajian tapi tiba-tiba muncul dongkol. muncul emosi, ora seneng, nesu, jengkel, iki pengajian opo kabeh kok ora entuk titik-titik haram, riba gor haram haram haram kabeh kok haram. sehingga muncul apa? rasa dongkol dalam hatinya. padahal kadang dia belum selesai mendengarkan tapi kadang sudah komen komentar dulu di bawah itu. Wah, ini
ustaz ora ngerti, ngopine kurang kentel, ngajine kurang adoh, apalagi? le turu kurang gasik dan seterusnya.
Ini belum selesai didengarin tapi sudah banyak komentar.
Maka kebenaran yang sampai kepadanya tidak membuat hatinya itu semakin bersih, tapi justru semakin menambah noda dalam hatinya.
Di saat itulah apa yang dia dengarkan tidak semakin menambah iman, tapi menambah rijsun fi qolbihi, menambah luka dan noda dalam hatinya.
Makanya Bapak Ibu yang dimuliakan Allah, bahaya kalau kita mendengarkan sebuah kebenaran yang bersumber dari hadis, bersumber dari Al-Qur'an, Engko sik, Pak. Engko sik, Pak. Aku iso nompo loh.
Kenapa? Lah piye? Mosok sing biasane wis tak lakoni kok diarani ra entuk ii pak. Urung iso nompo aku, iki mesti keliru. Itu hadise sahih ora iku?
Riwayat Bukhari Muslim, Pak.
Bukhari Muslim. Oh, jarene Bukhari Muslim II doif, Pak. Jarene Bukhari Muslim iki hadise palsu.
Wis tambah ngawur omongane.
Jadi, ada orang yang ketika disampaikan kebenaran kepadanya, bukannya dia menerima dengan baik, tapi dia menolak. Saat dia menolak, itulah semakin menambah noda dalam hatinya.
Ada satu pengalaman sederhana ya, mungkin ada salah satu jemaah yang waktu itu ikut. Beliau ee ikut jalan bareng saya ya. Jadi saya bertiga, saya dan dua jemaah sedang berjalan pulang dari Masjid Nabawi menuju hotel. Lalu kami ketemu dengan orang yang dia cukur plontos. Tapi disisakan sebagian rambut gondrong.
Jadi depannya cukur, kanan kirinya cukur, tengahnya ini gondrong sampai dikucir. Bisa dikucir. Nah, terus saya memperkenalkan diri. Kenalkan saya ini dari Jogja.
Alhamdulillah beliau tidak kenal nama saya. Terus beliau juga memperkenalkan saya dari ini, saya lupa waktu itu dari daerah mana. Terus saya minta izin,
"Mas, boleh enggak saya ngomong sedikit?"
Wonten nopo?
Nabi sallallahu alaihi wasallam melarang qoza. Melarang qoza.
Naha Rasulullah sallallahu alaihi wasallam anil qoza - Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melarang qoza.
Qoza iki opo, Mas?
Saya mau menjelaskan maju mundur ini, tapi ini harus sampai.
Qoza mencukur sebagian, membiarkan sebagian rambut. langsung deg.
Saya itu sudah tiga kali umrah baru pertama kali dengar kayak gini. Aku sudah tiga kali berangkat umrah baru pertama kali dengar seperti ini.
Sebentar dulu, Mas. Sebentar dulu. Sampean teko endi, Mas?
Loh, saya tadi kan sudah bilang saya dari Jogja, Mas.
Sampean penduduk surga ya, Mas?
Dia enggak terima, Pak.
Ya, alhamdulillah waktu itu enggak sampai ada gerakan fisik cuman komentarnya enggak berhenti.
Saya cuman, saya tinggal jalan saja. Terserah dia mau ngomong apa. Sampai manggil-manggil dari jauh, "Oh, ini ahli surga ya, Mas?" Ahli surga.
Saya itu sudah tiga kali umrah belum pernah dengar kayak gini. Diulang-ulangi kayak gitu. Fazadathum rijsan ila rijsihim.
Apa beratnya dia menerima? kalau memang ini adalah bentuk cukur rambut yang disalahkan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Karena ini budaya jahiliah.
Mungkin zaman kecil kita kan sering nonton film Cina itu, Pak. Ya, ada orang yang botak depan tapi gondrong belakang.
Nah, mirip seperti itu. Cuma dia enggak terlalu panjang ya, hanya bisa dikujar kira-kira satu jengkal. Saya cuma sampaikan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melarang potong qaza, mencukur sebagian, membiarkan rambut sebagian, panas!
Baik.
Maka kalau kita menerima sebuah kebenaran dan ternyata kebenaran itu bertentangan dengan kebiasaan yang kita lakukan, jangan sampai kita emosi. Sebab kebenaran itu tidak semuanya sesuai kemauan kamu. Syariat ini mengatur apa yang dilakukan oleh manusia. Bukan manusia harus mengatur syariat.
Nah, dari sinilah kalau Anda merasa gembira saat menerima ilmu yang baru, terus merasa senang, bersyukurlah kepada Allah. Mudah-mudahan ini tanda bahwasanya hati kita adalah hati yang sehat. Maka nutrisi ilmu yang kita dapatkan bisa kita telan dengan nikmat, bahkan kita gembira. Dan seperti itulah hatinya para sahabat.
Sehingga hati para sahabat ketika mereka menerima kebenaran yang baru, mereka merasa gembira. Khamar itu diharamkan oleh Allah secara bertahap.
Tahap yang pertama ketika Allah Subhanahu wa taala haramkan khamr, Allah turunkan firmannya, yasalunakail khamri wal maisir qul fihima kabirun wa manafiulinas. Mereka bertanya kepadamu wahai Muhammad tentang khamar dan judi. Sampaikan dalam praktik khamar dan judi itu ada sisi baik dan ada sisi buruk.
Dosanya lebih gede daripada manfaatnya. Allah tidak menafikan manfaat khamer.
Khamar itu ada manfaatnya. Coba Bapak Ibu bisa enggak menyebutkan apa manfaat khamar? Apa manfaat khamar?
Ya, menghangatkan badan. Marakno edan ya.
Itu bahayanya khamer. Khamer itu bahaya bagi badan.
Manfaat yang disebutkan dalam ayat ini, qul fihima itmun kabir wa manafi.
Manfaat di sini yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah manfaat ekonomi, Pak.
Manfaat ekonomi itu maksudnya apa? Payu didol sehingga bisa mendapatkan harta dari hasil menjual khamer. Apalagi khamer ini termasuk salah satu komoditas ekspor Madinah. Diekspor ke mana, Pak? Ke daerah Syam atau daerah Yaman yang penduduknya adalah beragama Nasrani. Musim dingin di Syam mereka mengkonsumsi khamer.
musim dingin di Yaman mereka mengkonsumsi khamar dan diekspor dari Madinah. Kurma yang demikian banyak nek mung dipangan tok raentek, Pak. Akhirnya diperam, diperes, diperam jadilah khamer. Bisa dijual ke Syam, bisa dijual ke Yaman jadi uang.
Manfaat ini tidak dinafikan oleh Al-Qur'an ya. Tapi ketika sahabat mendapatkan ayat ini, Umar bin Khattab mengatakan, "Allahumma bayyin lana fil khamri bayanan syafiah." Ya Allah, jelaskan kepada kami tentang hukum khamr gamblang. Lalu berikutnya turun ayat, "La taqrobus shalata wa antum sukaro hatta tlamu ma taquulun." Kalian enggak boleh mendekati salat dalam kondisi mabuk sampai kalian sadar apa yang kalian baca.
Karena waktu itu kejadiannya ada sahabat yang beliau membaca surah Al-Kafirun ngimami salat dalam kondisi mendem. Qul ya ayyuhal kafirun. ra tekan-tekan. La a'budu ma ta'budun wala antum abiduna ma a'bud. La audu ma ta'budun. Kok muter tekan-tekan sampai dia mengucapkan a'budu maa ta'budun. Lanya hilang. Aku akan menyembah apa yang kalian sembah. Gara-gara dia mabuk.
Orang mabuk ngomonge ngawur tapi salat. Akhirnya dilarang oleh Allah. La taqrobus shata wa antum sukaro. Dengan adanya ayat ini membatasi kesempatan bagi para sahabat untuk minum khamar sehingga mereka minum khamarnya setelah isya. mendem subuh sudah sadar. Karena kalau minum khamarnya bar magrib, habis asar atau habis zuhur nanti akan nabrak salat sehingga mereka pilih Waktu ketika itu. Tapi sebagian sahabat mengatakan, "Allahumma bayyin lana fil khamri bayanan syafiyah." Ya Allah berikanlah penjelasan kepada kami tentang khamr gamblang.
Karena menurut beliau kayaknya Allah Subhanahu wa taala masih akan menurunkan hukum tentang khamar dengan hukum yang lebih tegas. Karena sampai di situ belum tegas. Dan masih banyak sahabat yang minum khamer. Kenapa sih, Pak, kok mereka minum khamer?
Di masyarakat Arab ketika itu minuman utamanya air putih dan ada dua minuman pendamping. Kita kan punya minuman pendamping ya. Kalau saya bertamu ke rumah Bapak, minuman apa yang Bapak tawarkan? Hah?
Teh
Pernah enggak yang nawari mau jus apa, Mas? Jus jambu atau jus tomat atau jus ada, Pak?
Rumah mana yang ketika datang tamu ditawari juz? Ada sing duwe warung.
Umumnya mau minum teh atau kopi.
Minuman pendamping ketika itu khamer atau susu.
Makanya pada saat Nabi sallallahu alaihi wasallam Isra Mikraj didatangi oleh Jibril dan Jibril membawa dua gelas. Yang satu berisi apa? Khamer.
Yang satu berisi susu. Nabi sallallahu alaihi wasallam milih apa? milih susu dan ketika itu khamar belum diharamkan.
Loh, kok Jibril menawarkan khamer?
Karena ketika itu beliau masih berada di Makkah, khamar belum diharamkan. Nabi sallallahu alaihi wasallam memilih susu.
Lalu kata Jibril, "Laqad ikhtartal fitrah." Engkau telah memilih fitrah. Walaupun khamar belum diharamkan. Sampai kemudian turun firman Allah Subhanahu wataala, innamal khamru wal maisiru walam wal azlam rijsun min amalian fajtanibuhu laallakum tuflihun.
Kemudian turun firman Allah, "Sesungguhnya khamr, judi, kemudian praktik mengundi nasib, berhala, itu semuanya adalah perbuatan setan. Jauhilah agar kalian beruntung.
Maka saat turun ayat ini, khamar 100% diharamkan. Umar radhiallahu anhu mengatakan, "Intahaina rabbana,
intahaina rabbana." Kami berhenti, ya Allah. Kami berhenti. Karena sahabat punya satu prinsip, begitu dilarang sam'na wath'na. Dan ketika itu resikonya besar. Apa resikonya?
Mereka harus membuang semua simpanan khamar yang mereka punya.
Akhirnya Nabi sallallahu alaihi wasallam perintahkan, "Ahriku buang semuanya."
Khamer ditumpahkan sampai Madinah itu becek khamer.
Kebayang enggak, Pak? Jalanan becek khamer, Pak? Kalau Bapak cuman nuang air segayung, terserap tanah hilang. Sudah hujan itu kalau enggak deres, begitu selesai hujan enggak becek. Tapi karena deres, tanah ini mengalami saturasi, jenuh. Ketika sudah jenuh sehingga air sudah tidak bisa terserap. Khamer dibuang saking banyaknya sampai tanahnya enggak bisa menyerap sehingga becek dengan khamer. Saking banyaknya khamar yang dibuang para sahabat ketika itu.
Baik, itulah secuil kisah yang dialami oleh para sahabat.
Bagaimana ketundukan mereka terhadap aturan Allah Subhanahu wa taala.
Walaupun itu bertentangan dengan ekonomi mereka, bertentangan dengan apa yang menguntungkan bagi hidup mereka, bertentangan dengan kebiasaan mereka. Karena mereka terbiasa minum khamar tapi kemudian mereka tinggalkan.
Selanjutnya,
Ketika hati itu hati yang sehat, maka hati ini akan bisa menerima kebenaran dengan baik dan hati itu akan bisa menerima nasihat yang diberikan kepadanya. Kebalikannya, hati yang sakit maka dia tidak mau menerima kebenaran dengan baik. Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah menyampaikan dalam sebuah hadis riwayat Muslim dari Hudzaifah ibnul Yaman. Bapak, Ibu lihat hadis ini ya. Fokus.
Sudah pengin makan atau masih tahan lapar? Insyaallah ya. Saya bacakan hadisnya. Kalau Anda mendengarkan firman Allah, simak dengan baik.
Sebab itu firman Dzat yang Maha Agung Allah azza waalla. Kalau Anda mendengarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, simak dengan baik.
Karena ini sabda sang panutan manusia mulia Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Sebuah titah dari ngarso dalem. Ketika dibacakan maka seluruh abdi dalam dia nunduk mendengarkan. Walaupun yang dibacakan baru suratnya, bukan orangnya yang bicara. Sebagai bentuk penghormatan kepada ngarso dalem. Maka muslim harusnya memberikan penghormatan yang sama. Kalau ayat suci Al-Qur'an dibacakan, hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam dibacakan.
Atha bin Abi Rabah pernah didatangi oleh seorang remaja, remaja SMP atau SMA. Lalu beliau mengatakan, "Ya Imam, aku mau membacakan sebuah hadis kepadamu.
Silakan."
Kemudian remaja itu membacakan sebuah hadis dan Imam Atha mendengarkan dengan penuh khusyuk. Selesai orang ini pergi, remaja ini pergi. Kemudian Imam Atha mengatakan, "Aku sudah mendengarkan hadis itu sebelum anak ini dilahirkan. sebelum dia lahir, aku sudah pernah mendengarkan hadis itu.
Tapi tetap menghargai sehingga beliau tidak ngomong, "Sudah dengar aku enggak usah dilanjutin. Aku sudah hafal."
Itu kita yang sombong dengan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka kita enggak boleh kayak gitu ya. Kita tawadu di hadapan firman Allah, di hadapan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam......
Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, "Aneka fitnah dan ujian akan menyerang hati. Selalu datang untuk menyerang hati. Kita ini hidup bergesekan dan gesekan ini ada dua, gesekan dunia dan gesekan agama.
Dan itu semuanya mempengaruhi hati.
Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, "....." Seperti tiker di mana tiker itu terdiri dari banyak serabut-serabut.
Sehingga serabut itu disusun ketika orang membuat tikar. Maka hati ini berhadapan dengan aneka ujian sebagaimana serabut-serabut yang mendekat ke tikar sehingga nempel satu, nempel dua, nempel tiga, nempel-nempel terus. Lalu kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, hati manapun yang usribuha, yang dia menyerap semua fitnah tadi, ketika ada gesekan apapun mempengaruhi hatinya. Ketika ada fitnah apapun terserap dalam hatinya, maka satu noda, satu gesekan yang mempengaruhi hati akan dititikkan satu noda hitam dalam dirinya. Akan dititikkan satu noda hitam pada hatinya. Sehingga misalnya orang mendengarkan maksiat kemudian dia serap, tertitik satu noda hitam dalam hati. Makin banyak maksiat yang dia dengerin, makin banyak maksiat yang dia lihat, maksiat yang dia rasakan, akan menjadi titik-titik noda hitam dalam hatinya.
Atau orang mendengarkan perkataan-perkataan yang enggak benar, misalnya pernyataan yang bersumber dari pemahaman yang menyimpang dalam masalah agama, yang berasal dari pernyataan-pernyataan hadis palsu dan seterusnya. terus dia percaya atau misalnya akidah yang berasal dari keyakinan yang tersebar di masyarakat.
Jarene wong tua iki koy ngene iki jarene. Tapi jarene itu di diyakini. Dan di tempat kita banyak sekali orang yang punya akidah bersumber dari jarene, jarene ii koy ngene. Jarene koy ngene. Tapi itu di diyakini. ketika jarene-jarine tadi ya al-aqidah aljariniah, semua bentuk akidah yang berasal dari jarine-jarine tadi itu melekat dalam hati maka akan menjadi noda dalam batin.
.....- dan hati manapun yang mengingkarinya sehingga dia bisa seperti cermin melihat ini kebenaran, ini kebatilan. Maka kebatilan dia tolak, kebenaran dia terima. Nukita fihi nuktatun baid, Maka akan dititikkan dalam hati itu titik putih. Hatta alaqin. Sehingga jadilah manusia ini memiliki dua jenis hati.
Yang pertama adalah qolbun aby mlusofa. Fala tadurruhu fitnah.
Ada hati yang putih, putih yang bersih sehingga fitnah apapun tidak akan mempengaruhinya.
Ketika dia mendengarkan ya ada pernyataan-pernyataan yang menyimpang, dia bisa menyaring ini gak benar. Ini menyimpang. Dia baca di grup WA ada hadis-hadis yang palsu disebarkan, dia tahu ini hadis palsu, gak benar.
Sehingga dia tinggalkan, hatinya seperti cermin.
Sehingga fitnah apapun tidak akan mempengaruhinya. Maamatis samawatu wal ard - sepanjang hidup ini ada.
.....- Yang satunya hati yang hitam kelam. Seperti mangkok mengkurep.
Digambarkan Nabi sallallahu alaihi wasallam seperti mangkok mengkurep. Seperti mangkok yang terbalik.
La ya'rifu marrufan wala yunkiru munkaro illa ma usyriba min hawahu. Dia tidak kenal apa itu makruf, apa itu mungkar. Sehingga datangnya kemungkaran maupun hal yang baik diserap semuanya. maka dia tidak bisa mengenali mana yang benar, mana yang salah kecuali apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.
Baik, maksud dari hadis ini, Jemaah,
seorang manusia ketika lahir, hatinya itu hati yang bersih.
Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutnya sebagai apa? fitr mauludin yuladu alal fitr setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah. Nah, anak yang terlahir dalam kondisi fitrah ini seperti wadah yang kosong. Seperti apa jadinya wadah ini? Tergantung siapa yang mengisi.
Manusia itu kalau dia tidak pernah belajar dari guru yang baik, maka dia akan belajar dari lingkungan, Pak.
sehingga keyakinannya sesuai dengan keyakinan lingkungannya. Maka apa yang dia yakini mengikuti apa yang menjadi budaya masyarakat. Dan di tempat kita kan banyak kayak gitu ya. Apa yang dia yakini sesuai dengan apa yang menjadi budaya masyarakat. Tapi kalau orang itu belajar maka dia akan meyakini sesuai dengan apa yang dia pelajari. Maka, makanya pilihkan guru yang baik saat kita ini belajar.
Ayub Assikhtiani, seorang ulama tabiin pernah menyampaikan bahwa bagian dari nikmat yang Allah Subhanahu wa taala berikan bagi hambanya. Ba'da an hadahullahu ilal Islam. Setelah Allah Subhanahu wa taala berikan petunjuk kepadanya untuk masuk Islam. Ayulhimahu bisyaikhin shh. Allah Subhanahu wa taala berikan bimbingan kepadanya seorang guru yang baik. yang bisa membimbing dia untuk mempelajari seperti apa Islam yang benar.
Dan di masa tabiin sudah ada aneka pemahaman-pemahaman menyimpang yang muncul di kalangan kaum muslimin.
Baik. Karena itulah jemaah yang dimuliakan Allah, hati yang baik adalah hati yang dia bisa menerima kebenaran
dengan maksimal. Tahu mana yang makruf dan mana yang mungkar.
Untuk mengukur itu kata Ibnu Qayyim rahimahullah, beliau mengatakan, "Utlub qolbaka fiasah." Coba kamu cek kualitas hatimu dalam tiga keadaan.
Silakan kamu cek kualitas hatimu di tiga keadaan:
-- Yang pertama, isimail Quran. Ketika mendengarkan Al-Qur'an.
Sejauh mana respon batinmu ketika mendengarkan Quran?
Ora paham iku, Pak.
Bisa jadi karena hati kita hati yang terkunci mati. Makanya Allah Subhanahu wa taala menyebut dalam Al-Qur'an,
afalaa yatadabbarunal Quran am ala qulubin akfaluha. Apakah mereka tidak mentadaburi Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci sehingga mati?
Maka dia baca Quran. Quran menyebutkan di situ permisalan tentang binatang. Quran kalau menyebut permisalan kan enggak tanggung-tanggung ya. Nyebut apa? Binatang. Mataluhum kamalil kalbi in tahmil alaihi yalhat yatrhu yalh. Mereka ini seperti anjing. Bapak biarkan melet-melet. Anjing digesah juga melet-melet.
Di ayat yang lain Allah Subhanahu wa taala mengatakan, "Mataladzina humilut taurat tumma lam yahmiluha kamalil himar." Perumpamaan orang yang diberi Taurat tapi kemudian dia tidak tahu isinya seperti keledai yahmilu asfaro.
Sehingga Quran kalau memberikan perumpamaan itu enggak tanggung-tanggung nyebut binatang. Kamu loh, Pak disebut binatang apa enggak sadar to Pak? Aku ora ngerti ki Mas.
Itu seperti yang pernah dikatakan oleh Hasan Albasri, rubbaqil Quran wal Quranu yalanuh. Banyak orang yang moco Quran dan dia dikutuk oleh Al-Qur'an.
Betapa banyak orang yang membaca Quran dan dia sendiri dilaknat oleh Al-Qur'an. Tapi dia enggak ngerti. Pak, yang kamu baca itu kamu sendiri loh, Pak. Mosok sih, Mas? Coba Bapak terjemahkan.
Baca terjemahannya.
Aku ora ngerti.
Yang disebut sebagai binatang itu kamu loh, Pak.
Mosok sih? Aku ora ngerti.
Itulah contoh hati yang mati.
Maka kata Ibnu Qayyim, "Coba ukur kualitas hatimu di tiga keadaan. Satu,
saat baca Quran. Kok kamu membaca ayat Al-Qur'an enggak keroso blas sama sekali?" Berarti seperti yang Allah
firmankan, afala yatadabbarunal Quran am alubin mereka tidak mau mentadabiri Quran karena hatinya hati yang mati.
-- Yang kedua kata beliau, wafi majalisikri - Ketika di majelis zikir
dan yang dimaksud majelis zikir adalah majelis ilmu.
Allah menyebut jumatan itu sebagai majelis zikir. Fas'au ila zikrillah idza nudati yaumil jumati fasu ilaikrillah. Kalau kamu dipanggil suara azan di hari Jumat, maka bersegeralah menuju zikrullah.
Apa kegiatan jumatan, Pak?
Kegiatan jumatan itu apa, Pak? Yasinan atau tahlilan?
Tidak.
Kegiatannya apa? Khatib berkhotbah menyampaikan tausiah didengar oleh jemaah. Itu disebut oleh Allah dengan fas'au ila zikrillah. Bersegeralah menuju zikrullah. Itulah majelis zikir yang kata Atha bin Abi Rabah, majelisun yudkaru fihil halalu wal haram. Majelis yang disebutkan di sana halal dan haram. sehingga disebut sebagai majelis zikir.
Sudah, ada apa di majelis zikir kok bisa dijadikan sebagai alat ukur untuk melihat tingkat kesehatan batin?
Sejauh mana respon Anda terhadap ilmu yang kayak tadi? Ada yang mau nerima, ada yang dongkol, ada yang bergembira, ada yang sedih. Dalam satu forum kajian jemaahnya tidak seragam. Ada orang yang ketika mendengarkan kajian dia merasa saya disalahkan di sini, tapi saya terima. Ada yang ketika mendengarkan kajian opo isine kok mong nyalah-nyalahne moh ora gelem nompo sesok men ojo diundang sehingga dia enggak mau terima dia jengkel di situlah kita bisa ngukur sejauh mana kamu bisa menerima kebenaran sudah.
-- Yang ketiga kata beliau rahimahullah, wafi aqatil khulwah. Ketika kamu sedang sendirian.
Pada saat kamu sedang sendirian, saat kita sendirian barulah kita diuji. Apalagi di zaman internet lancar. Masyaallah.
Sehingga kalau orang sudah bersama dengan HP-nya, tidaklah orang berduaan dengan internet, kecuali yang ketiganya adalah setan. Apa yang dilihat?
Yowes embuh, Mas. Yo wis ngonokui. Apalagi dia bersama dengan internet, bersama dengan HP, bersama dengan iPad,
bersama dengan internet. dia bisa akses apapun dalam kondisi sendirian. Itulah ujian batin yang sejatinya. Sejauh mana dia berusaha untuk bertahan. Kalau di depan banyak orang dia masih bisa jaim, jaga image. Menampakkan orang baik, menampakkan orang saleh, menampakkan sebagai orang yang rajin ibadah. Begitu di belakang beda rasa.
Maka penentunya ada di mana? Di belakang. Karena itu di antara sifat orang munafik antara di depan sama di belakang beda. Sehingga disebut sebagai manusia yang punya banyak warna. Mudzabzabina baina dzalika la ilaha wala ilahaula. Wong munafik itu mudabzabina bainalika. Bingung goncang di antara keduanya.
Enggak ke kanan, enggak ke kiri, enggak jelas. bermuka dua. Di depan dia menampakkan seperti orang saleh. Begitu di belakang ternyata di balik itu aslinya beda.
Makanya salah satu di antara alat ukur akhlak seorang mukmin dikembalikan kepada penilaian orang dekatnya.
Ya, nyuwun sewu, Pak Ustaz. Orang terdekat Anda itu siapa?
ya istri
siapa? Orang dekat lelaki istri siapa?
Orang dekat wanita suami.
Merekalah yang paling tahu jobo njerone kita. Karena itu Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, "hiyarukum khiarukum liahlihi wa ana khairukum liahli."
Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik kepada istrinya. Dan aku orang yang terbaik dalam menyikapi istriku. Karena istri itu paling tahu, "Wah, Bapak Ning Jobo itu koy singo."
Singo ing ngisor mejo bareng neng omah.
Hah? Jadi apa? Beda lagi ya.
Berapa lama orang itu kuat jaim?
Kalau di depan orang lain dia kuat jaim selama 1 jam 1 jam 2
jam masih bisa jaim jaga image. Begitu kalau sudah bersama dalam waktu yang lama enggak bisa dia jaga image.
Ning ngarep koyo ngene, Pak. ning jero kok koyo ngene. Iya, ada yang beda. Ada yang beda. Makanya waktu khulwah ketika Anda sendirian, di saat itulah ujian sebenarnya.
Sehingga kalau kita waktu sendirian kok kemudian maksiatnya lebih dominan dibandingkan saat kita berada di tempat umum ada yang masalah dengan hatimu.
Lalu kata Ibnu Qayyim, "Faillam tajidhu tilkal mawatin fasalillah ayamunna alaika biqbin fnahu qabaka."
Kalau kamu tidak menjumpai hati yang baik di tiga waktu tadi, mintalah kepada Allah Subhanahu wa taala agar Allah memberikan hati yang baik bagimu. Karena Dialah yang menganugerahkan hati yang baik bagimu.
Dan bagian akhir kita perlu banyak berdoa kepada Allah. Sebab yang mengendalikan hati ini siapa?
Yang mengendalikan hati ini siapa? Allah.
Yang mengendalikan hati adalah zat yang kita panggil ya muqallibal qulub, ya musorifal qulub. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati. Wahai zat yang mengatur hati.
Bisa jadi pagi dia baik, sore berubah jadi penjahat. Mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan hati hamba-Nya.
Di antara doa Nabi sallallahu alaihi wasallam. Anda hafalkan ya.
--> Allahumma inni as'aluka qolban saliman.
Allahumma inni as'aluka qolban saliman.
Coba ditirukan.
Allahumma, Allahumma inni as'aluka, inni as'aluka qolban saliman
ulangi
Allahumma inni as'aluka - ya Allah aku mohon kepadamu hati yang salim
yang dikatakan oleh Allah dalam Alquran,....
Pada hari di mana anak dan harta enggak ada manfaatnya kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang salim. Kita minta kepada Allah hati yang salim.
--> Doa yang kedua
Ya muqallibal qulub tsabbit qolbi ala dinik.
Insyaallah semuanya sudah hafal.
--> Doa yang ketiga
Allahumma ya musorrifal qulub sorif qulubana 'ala thaatik.
Allahumma ya musorrifal qulub sorif qulubana 'ala thaatik.
--> Doa yang keempat
Allahumma ati nafsi taqwaha wazakiha anta khairu man zakaha anta waliyuha wa maulaha.
Ada banyak versi doa-doa yang diajarkan Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk kebaikan hati. Maka kalau kita pengin menjadi hamba yang punya hati yang baik, layak seperti ini, sering kita baca.
Allahumma inni as'aluka qolban saliman
(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hati yang selamat/sehat (dari penyakit hati)
Allahumma ya muqallibal qulub tsabbit qulubana ala dinik -- doa Meminta Istiqamah.
("Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu")
Allahumma ya mushorrifal quluub shorrif quluubanaa ‘ala tho’atik -- Do’a Agar Diteguhkan Hati dalam Ketaatan.
[Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!]
Allahumma aati anfusana taqwaha, wa zakkiha anta khairu man zakkaha, anta waliyyuha wa maulaha -- Doa Memohon Kesucian Jiwa.
(“Ya Allah, limpahkanlah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah, sesungguhnya Engkau adalah Sebaik-baik Dzat yang menyucikan jiwa, Engkau-lah Yang Menjaganya serta Melindunginya.”)
Allohumma inni as-aluka lazzatan nadzari ila wajhika was syauqo ila liqo-ika fi ghairi dharro-a mudhirrotin wala fitnatin mudhillatin -- Doa Agar Bisa Melihat Allah di Akhirat.
(Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan.)
Allaahumma zayyinnaa biziinatiil iimaani waj'alnaa hudaatan muhtadiin -- Doa Memohon Perhiasan Keimanan dan Petunjuk.
(Ya Allah, hiasilah (diri) kami dengan perhiasan (keindahan) iman, serta jadikanlah kami sebagai orang-orang yang (selalu) mendapat petunjuk (dari-Mu) dan memberi petunjuk (kepada orang lain).")
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik -- Doa Menjadi Hamba yang lebih Baik
("Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.”). HR. Ahmad No. 22119)
Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina 'adzabannar -- Doa meminta Kebaikan Dunia Akherat
(“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.”)
Washallallaahu 'ala nabiyyinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihii wa sallam, Wa akhiru da'wana anil hamdulillahi rabbil.
Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh