بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
🗓️ Sabtu, 6 September 2025
🏢 Masjid Samsul Huda, Madiun
Pembahasan kajian pagi ini adalah tentang Kaidah Mengikuti Ulama, kita ketahui bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi, siapa yang mengambil ilmunya para Nabi dialah pewaris para Nabi sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
ن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban.)
Kita mengikuti ulama karena ulama perantara kita dengan Nabi ﷺ, sehingga kita bisa mengikuti sunnah Nabi ﷺ, jangan sampai kita mengikuti tokoh yang dianggap ulama namun meninggalkan Sunnah Nabi ﷺ. Dalam mengikuti ulama harus pertengahan tidak ifrath (ghuluw) & tidak tafrith (meremehkan), berikut beberapa kaidah mengikuti ulama ;
1. Wali Allah yang wajib dihormati & dicintai
Imam As-Syafi’i berkata:
قَالَ الشَّافِعِيُّ : إنْ لَمْ تَكُنْ الْفُقَهَاءُ الْعَامِلُونَ أَوْلِيَاءً لِلَّهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ وَلِيٌّ
Artinya, “Imam As-Syafi’i berkata, ‘Kalau ahli agama yang saleh itu bukan wali Allah, niscaya Allah tidak memiliki wali.’” (An-Nawawi, Al-Majmuk fi Syarhil Muhadzdzab).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Wajib bagi setiap muslim setelah ia loyal pada Allah dan Rasul-Nya serta pada orang-orang beriman (sebagaimana diwajibkan dalam Al Qur’an), maka sudah seharusnya mereka juga loyal (menghormati) para ulama. Para ulama adalah pewaris para Nabi yang memberikan cahaya (ilmu) di kegelapan darat dan laut. ”[Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 20/231-232]
Kita harus beradab terhadap para ulama sebagaimana nasehat
حُوْمُ الْعُلَمَاءِ مَسْمُوْمَةْ, وَعَادَةُ اللهِ فِيْ هَتْكِ أَسْتَارِ مُنْتَقِصِيْهِمْ مَعْلُوْمَةْ
“Daging para ulama beracun, Allah pasti menyingkap tirai para pencela mereka.” (Tabyin Kadzibil Muftari (hal. 29) oleh Imam Ibnu Asakir).
2. Tidak ada ulama yang ma'shum dari kesalahan, kecuali Nabi ﷺ. Imam Malik bin Anas berkata:
يس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صل الله عليه وسلم
“Dan tidak ada seorang pun sesudah Nabi ﷺ melainkan diambil perkataannya dan ditinggalkan, kecuali Nabi ﷺ.”
3. Tidak ada ulama yang mengetahui semua kebenaran, kecuali Nabi ﷺ. Jika para sahabat saja tidak ada yang mengetahui semua kebenaran apalagi generasi setelahnya. Namun kebenaran agama ini tidak hilang di tengah umat ini karena Allah memberikan karunia ilmu yang bertingkat-tingkat di antara para ulama.
Imam Syafi’i mengatakan:
ذا صح الحديث فهو مذهبي
“Apabila sah satu hadits, maka itulah madzhabku.”
Wallahu 'alam