/
Melihat Allah Pada Hari Kiamat (Kitab Lum'atul I'tiqad)| Ustadz Muhammad Rezki Hr, ST, M.Eng., Ph.D
Kitab Lumatul Itiqad - Ustadz Muhammad Rezki Hr, Spesialis Productive Muslim Hafidzahullahu Ta'ala
Video Kajian
Jika video tidak dapat diputar, silakan Tonton di YouTube.
Tentang Kajian Ini
Kajian pertemuan ke-5 dalam seri Kitab Lumatul Itiqad yang membahas tentang melihat allah pada hari kiamat (kitab lum'atul i'tiqad)| ustadz muhammad rezki hr, st, m.eng., ph.d. Ustadz Muhammad Rezki Hr, Spesialis Productive Muslim memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.
Isi Ceramah Lengkap
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaikalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
Nab Muhammadin wa alihibii
a bapak-bapak ibu-ibu para pemirsa di
manaun anda berada rahimani warahimakumullahu Jamian Alhamdulillah di kesempatan sore
hari yang berbahagia ini kita kembali bisa berkumpul di masjid ini dalam
rangka kita melanjutkan pelajaran kita Insyaallah membahas kitab latulqad karya
Ibnu qudamahmaqisi rahimahullahu
taalamatan kita akan melompat kita tidak akan membahas sampai detail dan sampai
Ee kita tidak akan membaca semua yang dibawakan oleh Ibnu qudamah mengenai
pembahasan bahwasanya al-qur'an adalah kalamullah intinya sudah kita sampaikan
pada pertemuan sebelumnya bahwasanya di antara sifat Allah subhanahu wa
taala adalah Allah subhanahu wa taala memiliki sifat kalam wajib bagi kita
beriman Bahwasanya Allah memiliki sifat Kalam dan kalam Allah adalah kalam yang
bisa didengar bagi makhluk-makhluk yang diizinkan oleh Allah subhanahu wa taala
untuk mendengarnya maka inilah keyakinan kita keyakinan ahlusunah Wal Jamaah Allah
memiliki sifat kalam ini ditentang oleh mutazilah di antaranya muktazilah tidak
berkeyakinan Allah berbicara Allah tidak berfirman dan kita berkeyakinan Bahwasanya Allah subhanahu wa taala
berfirman secara hakiki secara hakiki maksudnya adalah bisa didengar ada kalimatnya ada
susunan kata-katanya ada susunan huruf-hurufnya yang itu bisa didengar maka ini keyakinan kita yang ini ditolak
oleh sebagian kelompok bahwasanya mereka mengatakan kalam Allah adalah kalam Nafsi bukan kalam Hakiki bukan kalam
Hakiki bukanlah kalimat yang bisa didengar kata mereka namun semacam bahasa isyarat Ya Allah
berbicara dengan bahasa isyarat yang Ini diterjemahkan oleh Jibril Jibril paham
apa yang diinginkan oleh Allah lalu Jibril menerjemahkannya disampai disampaikan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam demikian
keyakinan sebagian orang Adapun kita berkeyakinan Allah subhanahu wa taala berfirman secara hakiki ada kata-katanya
ada kalimatnya ada huruf-hurufnya yang bisa didengar ya tentu tidak sama dengan
makhlukNya tetap kita beriman berbeda dengan makhluk namun Allah berfirman
dengan cara yang sesuai dengan kesempurnaan Allah subhanahu wa
taala dan di bagian akhir di bagian yang kita lewati ini ya cukup panjang Ibnu
qudamah membawakan dalil-dalil naqli dan dalil-dalil aqli ya dalil dari al-quran
dan Dalil secara akal beliau ingin menunjukkan bahwasanya yang namanya kalamullah itu ada
huruf-hurufnya ya al-quran itu adalah kalamullah di antaranya ya di antara
kalamullah adalah Alquran di antara firman Allah adalah al-quran maka Ibnu qudamah ingin menunjukkan
bahwasanya yang namanya firman Allah itu ada huruf-hurufnya ya di anaranya yang
beliau kutipkan di sini adalah sabda Nabi Sallallahu Alaihi
wasallamangapa yang baca al-qur'an dengan AB sebagaimana kaidahnya maka dia
mendapatkan pada setiap huruf yang dibaca 10 kebaikan coba di sana Ibnu
qudamah berdalil Dengan hadis ini untuk menunjukkan bahwasanya al-qur'an itu terdiri dari
huruf-huruf dan al-qur'an adalah Firman Allah artinya di antara keyakinan kita
firman Allah subhanahu wa taala itu ada kalimatnya ada kata-katanya dan ada
huruf-hurufnya ya eh cukup cukup eh perlu pembahasan detail di sana Namun
kita sengaja untuk melewatinya bagi Bapak Ibu yang ingin membacanya silakan dibaca di buku ee sampai halaman 48 ya
cukup panjang ada berapa halaman Ibnu qudamah menjelaskan terkait hal ini Namun kita akan melompat pada pertemuan
kali ini kita akan membahas pembahasan yang baru bab yang baru yang disampaikan oleh Ibnu qudamah dalam kitab lumatulqad
yaitu mengenai keyakinan kita yaitu keyakinan ahlusunah Wal Jamaah bahwasanya kita semua orang-orang
beriman akan melihat Allah subhanahu wa taala pada hari
kiamat kita akan melihat Allah subhanahu wa taala pada hari kiamat maka kita
wajib untuk beriman demikian di antara rincian iman kepada Allah subhanahu wa
taala rincian iman kepada hari akhir bahwasanya orang-orang beriman akan
melihat Allah pada hari kiamat
sekali lagi kenapa para ulama mereka sampai membahas rinci seperti ini
al-qur'an dibahas bahwasanya al-quran adalah kalamullah bukan makhluk dibahas lagi secara rinci kalamullah itu ada
hurufnya ada kalimatnya dan seterusnya itu semua dibahas dengan susunan seperti itu oleh
para ulama karena kemudian muncul kelompok-kelompok yang munculnya belakangan memiliki pemaham Aman yang
berbeda ya memiliki pemahaman yang berbeda sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dalam al-qur'an sebagaimana yang
diajarkan oleh Rasulullah makanya kemudian para ulama mengkhususkan pembahasan tertentu dalam rangka
meluruskan kesalahpahaman ini Nah makanya di sini ada pembahasan
bahwasanya kita semua akan melihat Allah subhanahu wa taala pada hari kiamat karena perlu diketahui ada kelompok
dalam tubuh umat Islam yang Mereka menolak Mereka menolak bahwasanya Allah
subhanahu wa taala itu akan dilihat pada hari kiamat yang pertama mtazilah mtazilah
menolak secara total Allah tidak akan dilihat pada hari kiamat Allah tidak
akan dilihat Kenapa ada dua alasan utama Mereka menolak Allah subhanahu wa taala
bisa dilihat pada hari kiamat yang pertama kata mereka kalau Allah bisa dilihat artinya ada jisimnya jis itu
fisiknya ada fisiknya yang bisa dilihat sesuatu itu bisa dilihat kata orang-orang mtazilah kalau ada fisiknya
dan kata mereka logika mereka tidak mungkin Allah memiliki jisim kalau Allah miliki jisim ini sama dengan makhluk
sedangkan Allah berbeda dengan makhluk sehingga mereka berkesimpulan Allah subhanahu wa taala tidak bisa dilihat
meskipun pada hari kiamat nanti ini di antara dalil
logika Adapun dalil yang mereka gunakan Dari ayat Alquran ya mereka hanya memahami dari
satu sisi saja hanya memegang salah satu ayat ayat-ayat yang lain Mereka tolak
mereka juga berdalil dengan ayat al-quran di mana Allah subhanahu wa taala menyebutkan
laudriku Al ABS Allah subhanahu wa taala itu tidak
bisa digapai atau diliputi oleh pandangan Allah sebutkan demikian la
yudrikuhu Al absar Allah tidak bisa di gapai atau tidak bisa dicakup oleh
pandangan kita lihat dalam surat al-an'am ayat 154 Allah sebutkan
demikian la tudrikuhu Al absar kata Allah subhanahu wa taala
di dalam surat al-an'am 103 Maaf Diat alanam 103 la tudrikuhu Al absar Allah
Subhanahu taala tidak dicapai tidak bisa dicapai oleh penglihatan mata Allah
sebutkan seperti itu tidak bisa dicapai oleh penglihatan mata maka mereka memotong ayat ini mereka jadikan hujah
Bahwasanya Allah tidak bisa dilihat oleh manusia tidak bisa dilihat oleh
mata dan Mereka menolak ayat ayat yang lainnya maka pemahaman yang
benar ayat tadi dalam surat al-an'am ayat 1053 103 tadi ketika Allah
mengatakan Allah tidak bisa digapai oleh pandangan ini maksudnya ketika di dunia
pak ini maksudnya ketika di dunia demikian cara kita mengkompromikan
ayat-ayat yang ada nanti kita akan lihat ayat yang yang dibawakan oleh Ibnu qudamah almaqdisi yang menunjukkan
Bahwasanya Allah subhanahu wa taala bisa dilihat pada hari kiamat nanti Allah bisa dilihat pada hari kiamat namun
dalam surah al-an'am Allah katakan Allah tidak bisa dilihat oleh pandangan lalu Bagaimana bentuk komprominya dua ayat
ini seakan-akan bertentangan seakan-akan bertentangan Bagaimana bentuk komprominya komprominya
adalah yang dimaksudkan dalam surat al-an'am 103 tadi adalah Allah tidak
bisa dilihat ketika di dunia tidak bisa dilihat kita tidak
mampu ya bukan mustahil tapi tidak mampu
kita apa dalilnya kisah tentang Musa ketika
Musa Dia meminta kepada Allah subhanahu wa taala agar bisa melihat Allah secara
langsung agar bisa melihat Allah secara langsung lalu apa yang Allah perintahkan sudah kita ceritakan Allah perintahkan
Musa untuk melihat kepada gunung kata Allah subhanahu wa taala Kalau engkau masih bisa melihat gunung tersebut maka
aku di situ ternyata Musa tidak bisa
melihatnya gunung tersebut sudah hancur lebur menjadi debu Musa tidak bisa
melihat sehingga kata para ulama Bapak Ibu sekalian rahimani warahimakumullah Jamian Allah tidak bisa
dilihat di dunia dengan kemampuan melihat kita sekarang dengan kemampuan
fisik kita sekarang tidak mampu hancur Pak tubuh kita melihat zat Allah
subhanahu wa taala tidak mampu baru kita mampu nanti di hari kiamat di hari kiamat orang-orang
beriman akan melihat Allah subhanahu wa taala pada dua kesempatan kesempatan yang pertama adalah di padang
mahsyar di padang mahsyar umat manusia akan melihat Allah subhanahu wa taala
bahkan berbicara langsung dengan Allah subhanahu wa taala nanti akan kita bahas dalil-dalilnya ini yang pertama di mana
manusia akan melihat Allah yang pertama di padang mahsyar yang kedua adalah ketika umat manusia sudah masuk ke dalam
surga ketika orang-orang beriman sudah masuk ke dalam surga maka kemudian nanti di dalam surga kembali orang-orang
beriman akan melihat Allah subhanahu wa taala secara langsung nah kenapa di akhirat nanti
orang-orang beriman bisa melihat Allah subhanahu wa taala secara langsung sudah pernah kita sampaikan karena tubuh kita
itu adalah tubuh yang berbeda dengan tubuh kita sekarang ketika Allah membangkitkan umat
manusia ditiup sangkakala dengan dua tiupan tiupan pertama tiupan yang mematikan seluruh
manusia ditiup sangkakala dengan tiupan yang kedua tiupan kebangkitan Allah
bangkitkan seluruh umat manusia Allah berikan kepada mereka tubuh yang baru Maka tubuh ini Pak tubuh yang
berbeda dengan tubuh kita sekarang yang Daya tahannya lebih kuat
Kenapa Daya tahannya lebih kuat dengan tiga alasan yang pertama kita ulangi lagi manusia mampu ketika itu berdiri di
padang mahsyar yang satu harinya adalah 50.000 tahun satu hari di hari kiamat
nanti di hari akhir nanti termasuk di padang mahsyar satu hari di padang mahsyar 50.000 tahun hari di
dunia dan manusia dalam keadaan berdiri bahkan di sebagian riwayat disebutkan
tidak berkedip mata P 50.000 tahun bisa kita di dunia berdiri tidak berkedip
mata tidak bisa tidak kuat tubuh kita tapi ini di hari kiamat tubuh kita bisa seperti itu meskipun tetap menderita
tetap tetap kesulitan tetap tapi tubuhnya tidak hancur yang kedua ketika Allah subhanahu
wa taala mendekatkan matahari jaraknya 1 mil ya orang-orang bermandi keringat
sampai yang paling tinggi sampai mulut nabi berisyarat kepada mulut ini yang paling tinggi orang tenggelam dengan
kelingatnya sendiri lihat matahari jaraknya 1 mil Pak tubuh kita sekarang jelas tidak akan mampu menahan matahari
yang jaraknya 1 mil tersebut tubuh pada hari kiamat nanti
lebih kuat lebih tahan banting makanya tidak leleh tapi tetap merasakan penderitaan panas tetap lalu yang ketiga
Kenapa tubuh kita nanti pada hari kiamat dibuatkan oleh oleh Allah subhanahu wa taala lebih kuat dalilnya adalah tadi
dalam masalah melihat Allah subhanahu wa taala kalau kita pakai standar sekarang
mata kita sekarang tubuh kita sekarang akan hancur lebur kalau kita diizinkan oleh Allah subhanahu wa taala untuk
melihat zat Allah secara langsung Adapun pada hari kiamat karena ini tubuhnya sudah lebih kuat lebih tahan banting
secara fisik maka mampu untuk melihat Allah subhanahu wa taala secara langsung
kita akan lihat beberapa dalil yang dibawakan oleh Ibnu qudamah kita baca kata Ibnu qudamah Wal mukminuna yarbahum
Bi absihim orang-orang yang beriman akan melihat Rabb mereka di akhirat nanti
dengan penglihatan Bi absar dengan penglihatan Pak dengan mata ini keyakinan kita
kenapa Ibnu qudamah sampai mengatakan seperti itu karena ada sebagian kelompok
di dalam tubuh umat Islam yang mereka berkeyakinan Allah dilihatnya dengan
hati tidak dilihat dengan pandangan melihatnya Allah di hari
kiamat nanti kata mereka dengan hati Adun kita berkeyakinan Allah subhanahu wa taala dilihat dengan mata
pandangan lalu kata ibnudamah bahkan orang-orang beriman
akan mengunjung Allah subhanahu wa taala kalau yang melihat tadi dalam dua
kesempatan melihat di padang mahsyar melihat di dalam surga adapun yang kedua
ini orang-orang beriman mengunjungi Allah subhanahu wa taala ini kasusnya
bagi para penduduk surga artinya kejadiannya di dalam surga terdapat
hadis sahih yang berbicara terkait Hal ini disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah bahwasanya para
penduduk surga mereka akan mengunjungi Allah subhanahu wa taala setiap hari
Jumat setiap hari Jumat yang itu seukuran dengan hari Jumat dunia ya jadi
di di akhirat di surga ada harinya juga ada hari Jumat nah yang itu setara
dengan hari Jumat di dunia yang pada hari inilah orang-orang beriman akan mengunjungi Allah subhanahu wa taala
Lalu Allah akan menampakkan dirinya di hari tersebut oleh karena itulah hari
Jumat di surga disebut sebagai Yaum mazid sebagai hari tambahan Apa
maksudnya yaitu hari tambahan nikmat di mana Allah menambahkan kenikmatan bagi
para penduduk surga di hari Jumat ini karena Allah mengizinkan para penduduk
Surga untuk melihat zat Allah secara langsung setiap hari Jumat hadisnya
adalah hadis yang sahih diriwayatkan oleh Abu Hurairah Dari Abu Hurairah
diriwayatkan oleh Imam at-tirmidzi dan juga diriwayatkan oleh Ibnu ee Majah dan
dinilai sahih oleh beberapa
ulama baik kemudian kata Ibnu qudamah waukallimum
waukallimahu di surga nanti Allah akan mengajak para penduduk Surga itu
berbicara dan juga mereka yaitu para penduduk surga juga akan mengajak Allah
subhanahu wa taala berbicara bisa dilihat dan bisa diajak
berbicara dalilnya sudah banyak kita baca sebagiainya lagi kita baca Pada kesempatan kali ini ya
bagaimana atau nanti kita bahas ketika kita membahas ee surat Yunus ayat 26
nanti kita baca hadisnya yang menunjukkan bahwasanya para penduduk surga berbicara langsung dengan Allah subhanahu wa taala baik kita baca dalil
yang pertama yang dibawakan oleh Ibnu qudamah dalam bab ini firman Allah subhanahu wa taala dalam surah al-qiamah
ayat 22 wujuhu yaumaidin nadirah Ila rbiha
nadirah kata Allah subhanahu wa taala wajah-wajah orang-orang yang beriman
pada hari itu berseri-seri kejadiannya di padang mahsyar wajah orang-orang beriman pada
hari itu berseri-seri Apa sebabnya sebabnya karena mereka melihat tuhan
merekabiha nazirah kepada Rabb Mereka melihat
kepada Rabb mereka Mereka melihat inilah yang menjadi sebab wajah orang-orang
beriman pada hari kiamat nanti menjadi berseri-seri saking senangnya mereka Akhirnya bisa melihat Allah subhanahu wa
taala sehingga jelas sekali pak ya Ya bagaimana lancangnya orang-orang yang
mengatakan Allah subhanahu wa taala tidak bisa dilihat itu muktazilah mengatakan Allah tidak bisa dilihat
Bagaimana lancangnya Mereka menolak ayat ini Allah katakan wujuhu yaumaidin
nirohbiha niroh wajah mereka ketika itu bersiri-siri disebabkan Mereka melihat Allah subhanahu wa taala secara langsung
datang orang mtazilah kata mereka tidak kita tidak akan melihat Allah subhanahu wa taala pada hari kiamat ya bagaimana lancangnya mereka
menafikan ayat Allah subhanahu wa taala ini Allah yang menjelaskan Allah akan dilihat oleh orang-orang beriman tapi
orang-orang muktazilah berani mengatakan tidak Allah tidak
dilihat itu dia dalil yang pertama yang dibawakan oleh Ibnu qudamah dalam bab
ini bahwasanya orang-orang beriman akan melihat Allah subhanahu wa taala pada
hari kiamat nanti dalil yang kedua
firman Allah subhanahu wa taala dalam surah almuaifin kata Allah subhanahu wa taala
tentang orang-orang kafir ka innahumbihim yaumaidin
lahjubun ya tentang orang-orang kafir kata Allah subhanahu wa taala yang artinya sekali-kali tidak sesungguhnya
mereka pada hari itu benar benar terhalang dari melihat Allah subhanahu
wa taala mereka akan terhalang dari melihat Tuhan
mereka sehingga ada sekelompok orang pada hari kiamat
nanti yang tidak diizinkan oleh Allah subhanahu wa taala untuk melihat Allah ya mereka akan terhalang kita baca
di sana Kenapa Ibnu qudamah membawakan hadis ini kata Ibnu qudam membawakan Ayat tersebut kata Ibnu
qudamahun ketika orang-orang kafir itu mereka dihijabi
dihalangi untuk melihat Allah subhanahu wa taala dalam keadaan mereka itu dimurkai oleh Allah subhanahu wa taala
ini menunjukkan bahw ya kaum mukminin Mereka melihat Allah subhanahu wa taala
saat keadaan Allah subhanahu wa taala sedang Rida jadi Maksudnya seperti ini
Pak Allah Rida terhadap orang-orang beriman pada hari kiamat nanti makanya Allah izinkan mereka untuk melihat
melihat Allah subhanahu wa taala secara langsung dan Allah halangi orang-orang
kafir untuk melihat Allah subhanahu wa taala Allah berikan hijab kepada mereka sehingga mereka tidak bisa melihat Allah
subhanahu wa taala secara langsung sebabnya apa karena Allah murka terhadap mereka karena Allah murka terhadap
mereka Maka di sana ada perbedaan antara orang-orang kafir dan kondisinya orang-orang yang beriman Allah bedakan
seperti itu artinya sekelompok orang bisa melihat sekelompok orang tidak bisa melihat kalau tidak demikian kata Ibnu
qudamah al-maqdisi maka tidak ada artinya perbedaan dari kedua kelompok tersebut Maksudnya orang-orang mtazilah
ya beranggapan bahwasanya ayat-ayat ini ayat-ayat semacam ini mereka katakan ini
berlaku untuk seluruh manusia manusia ketika itu l mahjubun ya mereka akan
terhalangi untuk melihat Allah subhanahu wa taala tidak bisa melihat Allah subhanahu wa taala ayat ini digunakan oleh mtazilah Demikian maka kata Ibnu
qudamah kalau ini berlaku untuk semua orang ayat ini Maka Apa hikmahnya
konteksnya Allah subhanahu wa taala mencela orang-orang yang kafir itu Allah cela mereka dalam konteks Allah memurkai
mereka sehingga Allah halangi mereka dari melihat Allah subhanahu wa taala ya Adapun orang-orang beriman Allah Rida
terhadap mereka Allah izinkan mereka untuk melihat ya Sehingga adanya
ayat-ayat yang menyebutkan Bahwasanya Allah murka dengan orang-orang kafir dan
di antara akibat kemurkaan Allah subhanahu wa taala adalah Allah halangi mereka untuk melihat Allah subhanahu wa
taala secara langsung ini menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wa taala bisa
dilihat oleh orang-orang beriman pada hari kiamat
nanti kemudian sebelum kita berpindah ke hadis
yang dibawakan oleh Ibnu qudamah terdapat ayat lainnya sebenarnya yang
berbicara tentang bahwasanya kaum mukminin orang-orang beriman akan melihat Allah subhanahu wa taala secara
langsung
baik
dibawakan ada sebuah Firman ada ada sebuah ayat dalam surah Yunus ayat 26
ketika Allah subhanahu wa taala berfirman lilladzina Ahsanul Husna
waziadah bagi orang-orang yang berbuat baik
mereka akan mendapatkan al-husna dan juga mereka akan mendapatkan
ziadah orang-orang yang berbuat baik kata Allah subhanahu wa taala mereka akan mendapatkan alhusna dan juga akan
mendapatkan ziadah apa itu al-husna ditafsirkan langsung oleh Nabi Sallallahu wasallam dalam sebuah hadis
sahih Makna alhusna adalah surga Makna alhusna adalah surga dan dalam ayat ini
kebaikan al-husna itu kebaikan maksudnya kebaikan di sana Adalah surga maka orang-orang berbuat baik akan
mendapatkan surga dan juga akan mendapatkan ziadah ziadah secara bahasa maknanya adalah tambahan
pak Apa maknanya tambahan makna tambahan
adalah tambahan nikmat itulah Tadi kenapa disebut sebagai Yaum masjid
sebagai hari tambahan nikmat Apa yang dimaksudkan dengan tambahan dalam surah Yunus ayat 26 tadi tambahan di sana
maksudnya adalah tambahan nikmat bagi para penduduk surga yaitu mereka diizinkan untuk melihat wajah Allah
subhanahu wa taala mereka diizinkan untuk melihat wajah Allah subhanahu wa
taala sehingga surat Yunus ayat 26 ini juga berbicara tentang bagaimana Nanti
para penduduk surga akan melihat Allah subhanahu wa taala secara langsung
sebagaimana hal tersebut disebutkan dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh imam
muslim Baik saya carikan
hadisnya
kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh imam muslim ketika para penghuni surga telah masuk ke dalam
surga maka Allah subhanahu wa taala akan berfirman turiduna saian
azidukum Maukah kalian wahai para penduduk surga aku tambahkan kenikmatan
kepada kalian ditawari para penduduk surga mau tidak diberikan tambahan
kenikmatan maka para penduduk surga mereka akan
mengatakanamjam Wahai Allah bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami
bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga bukankah Engkau sudah menyelamatkan kami dari api neraka
Maksudnya apa masih ada lagi tambahan nikmat dari yang engkau telah berikan kepada kami selama ini kepada para
penduduk surga sudah dimasukkan ke dalam surga mereka sudah menduga ini nikmat yang paling Puncak Tidak ada yang lebih
nikmat lagi daripada hal tersebut maka kemudian kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam maka ketika itu Allah pun
membuka hijabnya membuka penghalangnya yaitu hijab atau ee tirai
yang menutupi wajah Allah yang Maha Mulia lalu kata Nabi Sallallahu alaii wasallam maka Ketika itu para penghuni
surga tidak pernah mendapatkan suatu kenikmatan yang lebih mereka sukai
daripada melihat wajah Allah subhanahu wa taala tidak ada kenikmatan yang lebih
besar yang dirasakan oleh para penduduk surga melebihi kenikmatan melihat wajah
Allah subhanahu wa taala maka setelah Menjelaskan hal tersebut Nabi Sallallahu
Alaihi wasam kemudian mengutipkan surah Yunus ayat 200 ayat 26 tadi kata Allah subhanahu wa
taala alladzina Ahsanul Husna waziadah bagi orang-orang yang berbuat
baik alhusna yaitu surga dan juga ziadah tambahan yaitu tambahan
ekstra diberikan kenikmatan melihat wajah Allah subhanahu wa taala sehingga
jelas sekali dari sana hadisnya hadis sahih riwayatkan oleh imam muslim bahwasanya orang-orang beriman di surga
pun mereka akan melihat Allah subhanahu wa taala secara langsung kemudian yang berikutnya
dibawakan dalil dari hadis yang dibawakan oleh Ibnu qudamah rahimahullahu taala waq Nabi Sallallahu
Alaihi Wasallam Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda
inakumum Sesungguhnya kalian akan melihat RAB
kalian seperti kalian melihat rembulan
Ini laamuna Fi ryatihi kalian tidak akan
berdesak-desakan untuk melihat Allah subhanahu wa taala artinya semuanya akan
melihat Allah subhanahu wa taala tanpa perlu berebut tanpa perlu berdesak-desakan secara puas melihat
langsung kepada Allah subhanahu wa taala sebagaimana manusia Mereka melihat Rembulan
ya kita melihat misalnya ban bulan purnama kita semua berada di tempat satu tempat maka k kita tidak perlu
berdesak-desakan untuk melihat rembulan tersebut maka demikianlah permisalan yang disampaikan oleh Nabi Sallallahu
Alaihi Wasallam ketika orang-orang beriman melihat Allah subhanahu wa taala di hari kiamat nanti mudah melihatnya
tidak perlu berdesak-desakan kemudian paragraf yang
terakhir yang dibawakan oleh Ibnu qudamah almaqdisi wah tasbihun liruyah
penyerupaan Ini kata Ibnu qudamah adalah penyerupaan mengenai tata cara melihatnya kita melihat Allah subhanahu
wa taala sebagaimana kita melihat rembulan di dunia ini sebagai permisalan
tentang caranya yaitu caranya maksudnya tentang caranya adalah tidak perlu berdesak-desakan tidak perlu berebutan
semuanya akan melihat Allah subhanahu wa taala secara langsung dengan
puas
la Lil mari ya penyerupaan di sini maksudnya bukan penyerupaan zat Ya
maksudnya bukan maksudnya adalah ketika nabi sallahui wasallam menyebutkan kalian akan melihat Allah subhanahu wa
taala seperti kalian melihat rembulan bukan maksud nabi sallallahuai wasallam itu Allah seperti rembulan Bukan tapi
yang dipermisalkan oleh Nabi adalah mengenai cara melihatnya Ya Adapun zat Allah subhanahu wa taala tidak ada yang
serupa dengan Allah subhanahu wa taala fainallaha taala Lau Wir karena Allah
subhanahu wa taala tidak ada yang menyerupainya dan tidak ada pula yang sebanding
dengannya demikian Bapak Ibu sekalian di antara keyakinan kita ahlusunah Wal
Jamaah sebagaimana disampaikan oleh Ibnu qudamah almaqdisi di antara bagian dari
keimanan kita kita kita beriman Bahwasanya Allah subhanahu wa taala akan dilihat secara langsung dengan mata
dengan pandangan oleh orang-orang yang beriman pada hari kiamat nanti di dua
kesempatan di padang mahsyar dan juga di surga Allah subhanahu wa
taala demikian yang kita bahas wallahuam wasallallahu ala Nabina Muhammad wa ala
alihi wasahbihi wasallam waktu yang tersisa kalau masih ada bisa kita gunakan untuk tanya jawab
barangkali ada bapak-bapak atau Ikhwan sekalian yang ingin bertanya silakan angkat
tangan
Pak jadi
pertanyaannya Apakah berhubungan ya kalau Mak dalam surat
Sajadah Min quatu y'yun ya itu berbicara tentang ee Min quatti y'yun ya kita cek terlebih
dahulu tafsirnya dalam surah
Sajdah ya ayat 17 dari surah sajadah kita cek
tafsirnya ya Secara makna maka tidak ada seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu berupa
macam-macam nikmat yang menyenangkan hati
mereka kalau dalam tafsir saadi tidak ada disebutkan ini ini tidak berbicara tentang melihat Allah namun ini
berbicara tentang seluruh kenikmatan yang ada di dalam surga ya karena istilah quratu y'yun itu adalah penyejuk
mata Pak ya penyejuk mata itu dalam bahasa Arab digunakan untuk sesuatu segala sesuatu yang menyenangkan
seseorang ya penyujuk mata itu tidak harus sesuatu yang dia lihat dengan matanya tapi segala sesuatu yang
menyenangkan dia maka itu disebut sebagai penyejuk mata quratu y'yun Maka kalau kata eh Syekh sa'di ini berbicara
tentang nikmat
surga wallahuam saya belum mendapati
keterangan apakah Ayat tersebut berbicara ee tentang melihat Allah subhanahu wa taala di surga ataukah
tidak saya belum ee mendapati keterangannya barangkali ada ya barangkali ada saya yang tidak
tahu
wallahuam baik Cukup
mongoanam I Benar E Alquran di diturunkan ke langit
dunia kemudian baru dia diturunkan secara bertahap ya Apakah kalimat baru
diturunkan kalau ada kejadian-kejadian ini kalimat yang benar saya tidak tahu namun secara tahapan seperti itu ya
diturunkan ke langit dunia baru kemudian dia diturunkan secara bertahap kepada nabi kita Muhammad sallallahu alaihi
wasallam yang jelas secara bertahapnya Iya tapi apakah kalimatnya menunggu
kejadian-kejadian itu saya kurang paham wallahuam Monggo
Pak t kita sampan
lamanya masa50
t Dian Sat hari
di akhirat tahun
ya Ada komprominya Pak itu sudah dibahas oleh para ulama wallahuam saya buka
referensi terlebih dahulu nanti saya sampaikan ya bagaimana bentuk komprominya tapi saya pernah membaca bentuk komprominya ketika ayat yang
menyebutkan ee Kana miqdaruhu alfanah ya Eh 1000
tahun ya sebagian ayat disebutkan 1000 tahun sebagian ayat lagi menyebutkan 50.000 tahun ada bentuk komprominya
nanti saya coba cek refensi terlebih dahulu saya akan sampaikan pada pertemuan berikutnya Insyaallah kita
cukupkan demikian lebih kurangnya mohon maaf wasallallahu ala Nabina Muhammad wa
ala alihi wasahbihi wasallam subhanakallahumma wabihamdika Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa
atubu ilaik su asalamualaikum warahmatullahi mwabarakatuh
Mutiara Hari Ini
"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."