1

Video Kajian

Tentang Kajian Ini

Kajian pertemuan ke-27 dalam seri Tazkiyatun Nufs yang membahas tentang rodja berharap kepada allah (tazkiyatun nufs). Ammi Nur Baits, S.T., B.A. memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.

2

Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Rodja Berharap Kepada Allah

Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى

🗓️ Rabu, 9 Juli 2025

🏢 Studio ANB Channel, Krajan, Yogyakarta

Melanjutkan pembahasan kitab Tazkiyatun Nafs, perihal Rodja, maknanya adalah ketenangan jiwa karena menunggu sesuatu yang dicintainya walaupun saat ini merasakan pahit, sebab jika tidak punya harapan tidak ada yang diperjuangankan, tapi ketika harapan itu tidak didukung dengan sebab ini disebut penipuan. Dunia disebut Allah sebagai tipuan, sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.[Surat Ali ‘Imran Ayat 185]

Apabila sesuatu sudah pasti maka tidak sebut harapan. Ada 3 hal yang perlu menjadi perhatian ;

1. Rodja, harapan ada peluang

2. Al Ghurur, harapan tanpa peluang (menipu)

3. Maqthu', sifatnya pasti

Para ulama yang perhatian dengan masalah hati memandang bahwasanya dunia itu seperti ladang akhirat, sedangkan hati seperti tanah, iman seperti bibit yang ditanam dalam tanah, ketaatan adalah tanah yang dikelola & dibersihkan atau seperti orang yang membuat sungai dan menyirami tanaman dengan air (amal shalih).

Hati yang tenggelam dengan dunia (harta) seperti tanah kosong yang tidak bisa ditanami aneka bibit, sedangkan hari kiamat adalah masa untuk panen, maka seseorang tidak dapat memanen kecuali apa yang telah ditanamnya. Bibit yang berkembang adalah bibit iman, apabila hatinya buruk maka bibit iman tidak akan tumbuh dengan baik sebagaimana bibit tidak tumbuh ditanah tandus. Bibit iman dirawat dengan disirami dan dibersihkan dari kotoran-kotoran, kemudian bertawakal kepada Allah agar tidak diganggu hama sehingga tumbuh menjadi tanaman yang baik, masa penantian ini disebut harapan yang baik (rodja)

Maka kewajiban kita ;

1. Menyediakan bibit iman yang baik yakni sebagaimana imannya ahlus sunnah berdasarkan Al Quran & As Sunnah, bukan imannya mutazilah, khawarij, kullabiyah, maturidyah, karramiyah, dsb.

2. Tanah yang subur, yakni hati yang baik sehingga bisa menyerap ilmu & amal

3. Pengelolaan lahan, yakni dengan ilmu & amal shalih

5. Masa panen, itulah akhirat, hasil yang baik jika iman terjaga hingga matinya

Wallahu 'alam

Mutiara Hari Ini

Abu Zubair Hawaary

"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."

QS. Al-Jumu'ah (62:10)

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."