1

Video Kajian

Tentang Kajian Ini

Kajian pertemuan ke-1 dalam seri Kajian Tematik yang membahas tentang resep hidup bahagia. Ammi Nur Baits, S.T., B.A. memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.

2

Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

🗓️ Ahad, 6 Juli 2025

🏢 Loka Asri Park, Sidoarjo

Pembahasan kajian pagi ini perihal resep hidup bahagia, perlu kita ketahui bahwasanya definisi hidup bahagia adalah sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى

لُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.[Surat Ali ‘Imran Ayat 185]

Hakikat hidup bahagia adalah ketika selamat dari neraka dan masuk surga, sementara kehidupan di dunia ada banyak kisah orang shalih yang menghadapi ujian sangat berat sebagaimana Nabi & Rasul. Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in

  • dari ayahnya, ia berkata,
  • ا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

    “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,

    « الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

    “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [1] [1] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

    Sunnatullah bahwasanya setiap hamba yang mau naik derajatnya maka harus mengalami ujian dari Allah, masing-masing bertingkat ujiannya, semakin tinggi derajatnya semakin berat ujiannya.

    Kebahagiaan hidup di dunia adalah seseorang tidak punya beban yang berarti berkaitan dengan dosanya,

    لَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

    Artinya: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,[Surat Al-Insyirah Ayat 1]

    وَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

    Artinya: Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,[Surat Al-Insyirah Ayat 2]

    Untuk menghilangkan beban maka solusi kebahagiaan adalah beriman dan beramal shalih, karena Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Surat An-Nahl Ayat 97;

    نْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

    Ini adalah janji Allah kepada orang yang beramal shalih, yaitu amal yang mengikuti kitab Allah سبحانه و تعالى dan sunnah NabiNya ﷺ baik laki-laki maupun perempuan dari kalangan anak cucu Adam, dan hatinya dalam keadaan beriman kepada Allah dan RasulNya, dan amal ini merupakan amal yang diperintahkan dan disyariatkan dari sisi Allah, bahwa Allah memberinya kehidupan yang baik di dunia, dan membalasnya sesuatu yang lebih baik daripada amalnya di akhirat. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang mengandung semua segi kebahagiaan dari berbagai segi. [Tafsir Ibnu Katsir]

    Wallahu 'alam

    Mutiara Hari Ini

    Abu Zubair Hawaary

    "Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."

    QS. Al-Jumu'ah (62:10)

    "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."