1

Video Kajian

Tentang Kajian Ini

Kajian pertemuan ke-1 dalam seri Kajian Tematik yang membahas tentang kode etik pengusaha muslim. Ammi Nur Baits, S.T., B.A. memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.

2

Ringkasan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

🗓️ Sabtu, 6 September 2025

🏢 Masjid Al Bashrawi, Kertosono, Nganjuk

Pembahasan kajian pagi ini adalah tentang Kode Etik Pengusaha Muslim, kita perlu mengetahui konsep rezeki dalam islam, bahwa rezeki semua makhluk telah ditetapkan Allah, namun ada yang salah paham dengan konsep rezeki yakni ;

1. Tidak perlu bekerja, ini keliru, karena kita tidak tahu berapa jatah rezeki sehingga harus kita cari. Makhluk harus menempuh sebab untuk mendapatkan akibatnya, namun hasil Allah yang menetapkan.

2. Berlebihan dalam mencari rezeki

Ibnu Katsir menceritakan, seorang lelaki datang mengadu kepada Ibrahim bin Adham. Ia mengeluh karena anaknya banyak. Ibrahim bin Adham menjawab, “Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang inipun terdiam. Tak mampu berkata-kata.(Al-Bidayah wa An-Nihayah, 13/510)

Kita diperintahkan untuk bertawakal ketika mencari rezeki

ن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: إنه سمع نبي الله صلى الله عليه وسلم يقول:«لَو أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا».

[صحيح]

  • [رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد] - [مسند أحمد: 205]
  • Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiallāhu 'anhu
  • meriwayatkan, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda,"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang benar, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; yaitu ia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kempes dan pulang sore hari dalam keadaan buncit (kenyang)."
  • [Sahih]
  • [HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad] - [Musnad Ahmad - 205]
  • Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).

    Nabi ﷺ dalam hadisnya,

    يُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ

    “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian memiliki penyakit istibtha’ dalam masalah rizki. (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi).

    Karakter istibtha’, obsesi untuk cepat kaya, cepat sukses, sebelum waktunya.

    Prinsip ini memberikan pelajaran bagi kita,

    (1) Siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Allah sampai dia mati.

    (2) Semiskin apapun manusia, dia tidak akan mati sampai jatah rizkinya habis.

    (3) Sebanyak apapun penghasilan manusia, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya.

    (4) Rizki para hamba tidak akan pernah tertukar.

    Wallahu 'alam

    Mutiara Hari Ini

    Abu Zubair Hawaary

    "Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."

    QS. Al-Jumu'ah (62:10)

    "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."