بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Tafsir Kontekstual
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Kamis, 8 Agustus 2024
🏢 Masjid As Salam, Minomartani, Yogyakarta
Melanjutkan pembahasan hadits dalam kitab Riyadhus Shalihin sebagai berikut;
114. Ketiga Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya Tidaklah Rasulullah ﷺ bershalat sesuatu shalat setelah turunnya ayat Idzaja anashrullahi walfathu -Apabila telah tiba pertolongan dari Allah dan kemenangan, melainkan dalam shalatnya itu selalu mengucapkan Subhanaka rabbana wa bihamdik, Allahummaghfirli -Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu. Ya Allah berilah pengampunan padaku. (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat yang tertera dalam kedua kitab shahih -yakni Bukhari dan Muslim, disebutkan dari Aisyah pula demikian Rasulullah ﷺ itu memperbanyakkan ucapannya dalam ruku' dan sujudnya yaitu Subhanakallahumma rabbana wa bihamdika, Allahummaghfirli -Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu. Ya Allah, berikanlah pengampunan padaku, beliau mengamalkan benar-benar apa-apa yang menjadi isi al-Quran. Makna Yata-awwalul Quran ialah mengamalkan apa-apa yang diperintahkan pada beliau itu yang tersebut dalam al-Quran, yakni dalam firman Allah Ta'ala Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu, artinya Maka maha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada TuhanMu dan mohonlah pengampunan kepadaNya.
Dalam riwayat Muslim disebutkan Rasulullah ﷺ itu memperbanyak ucapannya sebelum wafatnya, yaitu Subhanaka wa bihamdika, astaghfiruka wa atubu ilaik Maha Suci Engkau dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaMu, saya mohon pengampunan serta bertaubat kepadaMu. Aisyah berkata Saya berkata Hai Rasulullah, apakah artinya kalimat-kalimat yang saya lihat Tuan baru mengucapkannya itu Beliau ﷺ bersabda Itu dijadikan sebagai alamat -tanda bagiku untuk umatku, jikalau saya telah melihat alamat tanda tersebut. Itu saya ucapkan apabila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan. Beliau membaca surat an- Nashr itu sampai selesai.
Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan Rasulullah ﷺ memperbanyakkan ucapan Subhanallah wabihamdih, astaghfirullah wa atubu ilaih Maha Suci Allah dan saya mengucapkan puji-pujian kepadaNya, saya mohon pengampunan serta bertaubat kepadaNya. Aisyah berkata Saya berkata Ya Rasulullah, saya lihat Tuan selalu memperbanyak ucapan Subhanallah wa bihamdih, astaghfirullah wa atubu ilaih. Rasulullah ﷺ lalu bersabda Tuhanku telah memberitahukan kepadaku bahwasanya aku akan melihat sesuatu alamat -tanda untuk umatku. Jikalau saya melihatnya itu, maka aku memperbanyakkan ucapan Subhanallah wa bihamdih astaghfirullah wa atubu ilaih. Kini aku telah melihat alamat tersebut, yaitu jikalau telah datang pertolongan Allah dan kemenangan yakni dengan dibebaskannya kota Makkah. Dan engkau melihat para manusia masuk dalam agama Allah dengan berduyun-duyun. Maka maha sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu dan mohonlah pengampunan kepadaNya, sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima taubat.
Makna mentakwil Qur'an adalah melaksanakan isi dari Al Qur'an atau membumikan Al Qur'an dalam kehidupan nyata. Rasulullah ﷺ adalah wujud pelaksanaan Quran di dunia nyata karena senantiasa mendapatkan bimbingan wahyu.
لتُ يَا أُمَّ المُؤمِنِينَ ! حَدِّثِينِي عَن خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ .قَالَت يَا بُنَيَّ أَمَا تَقرَأُ القُرآنَ ؟ قَالَ اللَّهُ ( وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ ) خُلُقُ مُحَمَّدٍ القُرآنُ أخرجها أبو يعلى (8275) بإسناد صحيح .
Artinya: “Aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritakanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah ﷺ.” Aisyah berkata, “Wahai anakku, tidakkah engkau membaca Al-Qur’an Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Akhlak Muhammad adalah Al-Qur’an.” (HR. Abu Ya’la, 8275 dengan Isnad yang shahih).
Wallahu 'alam