بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Betapa Lamanya
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Kamis, 16 Mei 2024
🏢 Masjid As Salam, Minomartani, Yogyakarta
Melanjutkan pembahasan hadits dalam Riyadhus Shalihin tentang bab Bersungguh-sungguh
102 - الثامن: عن أبي عبد الله حُذَيفَةَ بنِ اليمانِ رضي الله عنهما، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ذَاتَ لَيلَةٍ فَافْتَتَحَ البقَرَةَ، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ عِنْدَ المئَةِ، ثُمَّ مَضَى. فَقُلْتُ: يُصَلِّي بِهَا في ركعَة فَمَضَى، فقُلْتُ: يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا، يَقرَأُ مُتَرَسِّلًا: إِذَا مَرَّ بآية فِيهَا تَسبيحٌ سَبَّحَ، وَإذَا مَرَّ بسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإذَا مَرَّ بتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ، فَجَعَلَ يَقُولُ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيمِ» فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحوًا مِنْ قِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ: «سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ» ثُمَّ قَامَ طَويلًا قَريبًا مِمَّا رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ، فَقَالَ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى» فَكَانَ سُجُودُهُ قَريبًا مِنْ قِيَامِهِ. رواه مسلم.
102. Kedelapan: Dari Abu Abdillah, yaitu Hudzaifah bin al-Yaman al-Anshari yang terkenal sebagai penyimpan rahasia Rasulullah ﷺ, radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya bershalat beserta Nabi ﷺ pada suatu malam maka beliau membuka -dalam rakaat pertama- dengan surat al-Baqarah. Saya berkata: "Beliau ruku' pada ayat keseratus, kemudian berlalulah." Saya berkata: "Beliau bershalat dengan bacaan tadi itu dalam satu rakaat, kemudian berlalu." Selanjutnya saya berkata: "Beliau ruku' dengan bacaan di atas itu, kemudian membuka -dalam rakaat kedua - dengan surat an-Nisa' lalu membacanya, kemudian membuka lagi -sebagai lanjutannya- surat ali Imran, kemudian membacanya. Beliau ﷺ membacanya itu dengan rapi sekali -tidak tergesa-gesa- jikalau melalui ayat yang di dalamnya mengandung pentasbihan -memahasucikan- beliaupun mengucapkan tasbih, jikalau melalui ayat yang mengandung suatu permohonan, beliaupun memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan berta'awwudz -mohon perlindungan kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik, beliaupun berta'awwudz -mohon perlindungan. Kemudian beliau ﷺ ruku' dan di situ beliau mengucapkan: Subhana rabbiyal 'azhim. Ruku'nya adalah seumpama saja dengan berdirinya -yakni perihal lamanya hampir sama-, selanjutnya beliau mengucapkan: Sami'allahuliman hamidah. Rabbana lakal hamd, lalu berdiri dengan berdiri yang lama mendekati ruku'nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan: Subhana rabbial a'la, maka -lama waktu- sujudnya itu mendekati pula akan berdirinya." (Riwayat Muslim)
Dalam sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
فْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ
“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya” (HR. Muslim no. 756).
Berbeda antara shalat Nabi ﷺ dengan orang munafik dijelaskan Allah سبحانه و تعالى dalam Surat An-Nisa Ayat 142;
نَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
وَلَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا
Dikeluarkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud hadist dari Rasulullah bahwa ia menyebutkan salah satu ciri shalat orang-orang munafik dengan sabdanya: “mereka akan menunggu matahari sampai pada dua tanduk setan (hampir terbenam) lalu mereka melakukan shalat empat rakaat dengan cepat, mereka tidak berzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali”.(Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir)
Maka ciri shalatnya orang munafik adalah dilakukan dengan cepat dan tidak tuma'ninah.
Wallahu 'alam