بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Tangan Di Atas & Tangan Di Bawah
Kitab Al Lulu Wal Marjan - Ammi Nur Baits, S.T., B.A. Hafidzahullahu Ta'ala
Video Kajian
Jika video tidak dapat diputar, silakan Tonton di YouTube.
Tentang Kajian Ini
Kajian pertemuan ke-62 dalam seri Kitab Al Lulu Wal Marjan yang membahas tentang tangan di atas & tangan di bawah. Ammi Nur Baits, S.T., B.A. memberikan penjelasan rinci terkait topik ini.
Isi Ceramah Lengkap
Bab Penjelasan bahwa alyadul Ulya tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah dan tangan yang di atas. Itulah tangan yang memberi sementara tangan yang dibawa adalah tangan yang menerima.
Berarti gimana Pak?
kalau memberi tangannya taruh di di atas.
Gimana kalau yang menerimanya orangnya di atas?
ngasih gini, ya terus diterima oleh orang yang di atas.
Nah tentu saja tidak demikian,
intinya adalah yang dimaksud dengan alyadul 'ulya tangan yang di atas adalah tangan yang memberi.
Di atas, bukan sebatas posisi tapi di atas yang dimaksud adalah di atas dalam arti status orang yang memberi tangannya di atas sedangkan orang yang menerima status tangannya di bawah.
Hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
Ketika Beliau berada di atas mimbar Beliau menyebutkan tentang sedekah taafuf - menjagah iffah,
apa artinya iffah?
kehormatan, dengan tidak meminta-minta.
...
Dan Beliau menyinggung kehormatan orang yang suka meminta-minta, lalu Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, 'Al yadul ulya khairun minal yadis suflaa' - tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Al yadul Ulya tangan yang berada di atas, hial munfiqoh itulah orang yang memberi di atas, dalam arti di atas apa? Secara status!. wasufla hia sailah sedangkan tangan yang dibawah adalah tangan yang meminta atau yang menerima.
hadits riwayat Bukhari dan Muslim
Baik, mungkin Bapak/Ibu sudah pernah mendengar ada komunitas, namanya TDA!
Tangan di atas, itu sampai jadi nama sebuah komunitas!
TDA, ya Coba kita searching ada enggak?
Komunitas namanya TDA,
tangan ini, ini nama komunitasnya ya,
Komunitas Tangan Di atas TDA ,
Masyaallah jadi ini Entrepreneur Community komunitas para pengusaha
Yang mereka ingin atau punya keinginan untuk banyak menderma dan memberikan manfaat bagi masyarakat, hal yang bagus. Tinggal selanjutnya adalah didukung dengan memiliki akidah yang benar kemudian pemahaman agama yang benar dan semangat untuk bersedekah dengan benar.
Selanjutnya hadits Hakim bin Hizam radhiallahu Anhu,
Hakim bin Hizam pengusaha di kota Makkah, Beliau punya hubungan kekeluargaan dengan Khadijah bintul khuwailid istri Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang pertama.
Dan hakim bin Hizam ini ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam berada di kota Makkah Beliau banyak meminta kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawahnya,
kita baca dulu,
Hakim bin Hizam bercerita,
Saaltu Rasulullahi Sallallahu Alaihi Wasallam fa'athoni - aku pernah meminta kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam lalu Beliau memberiku,
tsumma saaltuhu - lalu aku minta lagi
fa'athoni - kemudian Beliau beri lagi
tsumma saaltuhu fa'athoni - aku minta lagi dikasih lagi oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Sering meminta kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan setiap kali meminta dikasih oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dan ini menunjukkan kedermawanan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Fainnahu la yarudu yadassailah - Nabi Sallahu alh wasallam tidak pernah menolak tangan yang minta sepanjang Beliau punya. Kalau ada
orang gini, pasti dikasih, sampai ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam hanya memiliki satu lalu ada sahabat yang minta itu dikasihkan.
Nah kemudian sahabat yang minta ini dimarahi oleh sahabat yang lain, 'bukankah kamu sudah tahu kalau Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah menolak tangan yang meminta kenapa kamu tega-teganya minta.'!
Sehingga sahabat memahami minta apa yang dimiliki oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam padahal itu cuman satu, itu seperti merampas seperti merampas harta Beliau karena Beliau tidak akan menolak ketika diminta dan dan itu dermawannya Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam.
Sampai dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu Anhu,
Kanannabiyu Shallallahu Alaihi Wasallam ajwadanas wa ajwadu Ma yakunu Fi Ramadan - Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadan, lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadan.
kaannahu rihul Mursalah - dermawannya Beliau seperti angin yang berhembus.
Angin berhembus tidak pandang bulu, siapapun dikasih angin.
Sehingga baik orangnya A maupun orangnya B ketika angin berhembus yang kena siapa?
Semuanya! disapu semuanya.
Itulah gambaran yang diberikan oleh Ibnu Abbas untuk
dermawannya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga
Beliau dermawan dan banyak memberi,
dermawan
selalu atau tidak menolak, tidak menolak apa tadi?
tangan yang meminta!
Rasulullah Sallallahu Alaihi
Wasallam tidak menolak tangan yang meminta dan pada
posisi ketika Beliau Sallallahu Alaihi Wasallam tidak
pernah menolak tangan meminta, maka kondisinya tidak
dikasih karena dua hal.
Saat Beliau tidak memberi, saat Beliau tidak memberi alasannya karena dua hal:
- satu tidak punya,
sudah enggak punya lagi ya sudah sudah habis
- yang kedua, yang kedua dalam rangka edukasi
sehingga yang bersangkutan diberi pelajaran agar tidak terus-terusan meminta.
Seperti ini barangkali yang terjadi pada sahabat Hakim setelah Hakim meminta sampai tiga kali kemudian Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
Ya Hakim - wahai Hakim
Inna hadal ma'ala khadiratun hulwah - sesungguhnya harta
ini manis dan hijau,
hijau, hijau itu warna melambangkan apa?
Hah!, hijau itu warna melambangkan apa?
enak di pandang! enak dipandang itu apa? hijau.
hulwah melambangkan apa?
hulwah melambangkan apa?
enak dirasakan!
Warna punya makna, warna hijau melambangkan enak dipandang,
manis melambangkan enak dirasakan.
Inna hadal ma khadiratun hulwa - harta itu memang hijau dan manis enak dipandang dan nikmat dirasakan.
Tapi kalau dituruti terus enggak ada ujungnya,
maka Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakanan, 'Siapa yang mengambil harta bisakawati nafsin - dengan perasaan sakawah, sakhawatu nafsin artinya adalah tidak bernafsu. Siapa yang mengambil harta dengan perasaan tidak bernafsu maka akan diberkahi sehingga dia mengambil dengan perasaan tenang , santai dapat walhamdulillah.
enggak, juga enggak terlalu ngejar,!
Sahawatu nafsin - jiwanya nyantai, jiwanya tenang, tidak
terlalu bernafsu untuk mendapatkannya
Dan siapa yang mengambil harta dengan perasaan hishawatu
nafsin - ngejar-ngejar, jiwanya selalu ngejar.
Sehingga dia ketakutan ketika kehilangan kesempatan,
ketakutan ketika kehilangan peluang
pokoknya jangan
sampai gagal,
pokoknya harus dapat, pokoknya dan
seterusnya.
lam yubarok lahu fihi - maka tidak akan diberkahi.
Ada enggak model seperti ini Pak?
suasana batinnya ada,
ada orang dapat harta dia tidak terlalu bernafsu ketika mendapatkannya dan ada orang yang terlalu bernafsu ketika ingin mendapatkan harta dan itu kunci keberkahan, itu kunci keberkahan.
Disaat seorang hamba mendapatkan harta dengan perasaan tidak terlalu bernafsu, tidak menggebu-gebu untuk mendapatkannya, dapat diterima, tidakpun tidak dikejar maka hartanya akan diberkahi oleh Allah Taala.
Sebaliknya ketika dia mendapatkan dengan cara terlalu bernafsu,
lam yubarak lahu fihi - maka tidak akan diberkahi.
kaladzi yaakulu wala yasba - seperti orang yang makan tapi enggak pernah kenyang
Al yadul ulya khairun minal yadis suflaa - tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Ini peringatan yang disampaikan oleh Nabi kepada Hakim bin Hisam, lalu Hakim mengatakan, aku sampaikan ya Rasullalah demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran aku tidak akan meminta setelah ini kepada seorang pun sampai aku meninggalkan dunia.
......aku tidak akan mengurangi, maksudnya adalah mengurangi harta orang lain .....
Aku tidak akan mengurangi harta orang lain setelah kejadian ini selamanya sampai mati.
Subhanallah! demikianlah pesan yang luar biasa yang disampaikan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, berangkat dari hati sampai ke hati. Sehingga begitu sahabat ini sekali mendengar nasihat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam langsung berubah, yang awalnya sering meminta minta dikasih, minta lagi dikasih lagi, minta lagi dikasih lagi, begitu dinasihati seperti ini berhenti langsung berubah, Masyaallah!
Beda dengan kita ya! wis dikandani lali,
nek ra lali, lupa!
sehingga kita seringnya seperti itu,
sudah diberitahu ndablek,
nek nggak ngelali atau lali
sengaja melupakan atau enggak perhatian.
Apa yang terjadi pada Hakim bin Hizam?
Fakana, Abu Bakar radhiallah anhuu, lalu Abu Bakar pernah mau memberi hadiah kepada hakim tapi Hakim menolak untuk mengambilnya.
Umar radiallah Anhu, Umar juga pernah memanggil Hakim untuk diberi hadiah tapi Hakim tidak mau menerima sedikit pun.
Khulafaur Rasyidin membagikan harta negara untuk para pejuang-pejuang negara, pejuang negara ini enggak mau nerima sama sekali karena Beliau pernah menyatakan prinsip di hadapan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam 'demi Dzat yang telah mengutus anda dengan membawa kebenaran, aku tidak akan mengurangi harta yang ada di tangan orang lain sepeser pun sampai aku mati'.
Dan Masyaallah! itu dipegangi oleh orang tersebut sampai mati dan Hakim bin Hizam sepeser pun tidak mau nerima, sampaipun hadiah yang diberikan oleh negara karena Beliau sebagai pejuang. Pejuang negara tapi Hakim tidak mau nerima walaupun sudah di kasih oleh Abu Bakar maupun Umar.
Lalu Umar mengatakan...
Wahai kaum muslimin
Umar kemudian menyampaikan kepada masyarakat, takutnya nanti muncul suudzon di masyarakat. Hakim punya hak kenapa enggak dikasih!
Maka Umar menyampaikan pidatonya,
inni ushidukum - aku jadikan kalian sebagai saksi
ya ma'syaral muslimin - wahai kaum muslimin
ala hakimin - terkait kasus Hakim
aku sudah tawarkan kepada Beliau haknya berupa Fai', Fai',
apa artinya Fai'? Hah? harta rampasan perang! ghanimah.
nama lain dari ghanimah fai'
........fai' yang Allah berikan kepada Nabi, maksudnya ghanimah! tapi Hakim enggak mau untuk mengambilnya,</P>
falam yarza hakimun ahadan - Hakim tidak pernah mengurangi harta siapapun di antara masyarakat setelah wafatnya Rasulullah sampai Hakim meninggal dunia.
Masya Allah! Bisa enggak seperti ini?
tidak meminta sampai mati!
sanggup? Hah? enggak sanggup!
Salah satu di antara baiat Nabi Sallallahu Alaihi
Wasallam adalah tidak minta sampai! sampai mati!
di sini gak ada ya!
Jadi Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah membaiat beberapa sahabat, di antara poin baiatnya adalah wa 'alla yas'alanasa syaia.
Ini salah satu isi baiat, tsumma asarro wa asarro bikalimatin.... ada kalimat itu ya! ini, isi baiatnya ini!
Dari Auf bin Malik al-asjai Beliau bercerita, ....
Kami bersembilan atau berdelapan atau bertujuh,
(mungkin perawi tidak begitu hafal persis angkanya!)
Kami ada beberapa orang, bersama Rasulullah Sallallahu
Alaihi wasallam,
faqaala Sallahu Alaihi Wasallam - lalu Nabi Sallallahu
Alaihi Wasallam bersabda,.....
lalu Beliau mengatakan, 'kenapa kalian tidak berbaiat
Rasulullah?'
padahal waktu itu kami baru saja berbaiat,
lalu kami nyatakan, kami sudah membaiat anda ya
Rasulullah.
faqaala Sallahu Alaihi Wasallam - kemudian Rasulullah
mengulangi lagi, 'Ayo baiat kepada Rasulullah'
lalu kami hamparkan tangan kami,
kami sudah membaiat anda ya rasulullah!
baiat apalagi yang harus kami ucapkan?
Qaala Sallallahu alhi wasallam - Lalu Nabi membaiat!
Baiat kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, poinnya:
1. Baiat untuk selalu menyembah Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada siapapun.
2. wasalawatil khamsi - dan baiat untuk menjaga salat lima waktu
3. dan baiat untuk selalu mentaati pemerintah
lalu Nabi Sallallahu Allaihi wasallam membisikkan satu kalimat dengan suara pelan, jangan minta siapapun kepada manusia, jangan minta apapun kepada manusia.!
Kata Auf bin Malik, (ini berat ya!) Aku melihat di antara mereka yang pernah membayat ini, cemetinya itu jatuh!' cematinya jatuh tapi dia tidak minta tolong kepada orang di bawah untuk mengambilkannya. Karena takut melanggar baiat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Anda bayangkan ya! di atas unta bawa cemeti sudah siap untuk jalan cemetinya jatuh. Di bawah ada orang, orang yang baiat ini, sahabat ini tidak minta tolong! tolong dong ambilkan! tidak !Beliau turun ambil sendiri naik lagi, sampai seperti itu cara sahabat dalam menjaga prinsip.
Makanya saya tanya sanggup enggak tidak minta sampai mati? sanggup! Insyaallah,
sampai rumah, Bu kopi Bu!
wis gagal, baru tadi kan, malam sudah seperti itu!
Enggak sanggup ya? ya,
apalagi kalau sudah di warung saya minta ini, minta ini, minta ini,
tapi kan bayar Pak!
Lah kamu kan minta, tolong dong ambilin ini, Ambil tisu, Ambil apa lagi.
Hadits Riwayat Muslim.
Kata an Nawawi, dalam hadits ini terdapat pelajaran untuk berpegang dengan perintah umum atau larangan umum karena mereka dilarang untuk meminta.
fahamaluhu ala umumihi - lalu mereka pahami ini berlaku semuanya. (dan di situ ada motivasi)
alattanziihi an jamii ma yusamma sualan - untuk menghindari semua yang bisa disebut meminta, semua yang bisa disebut meminta.
Minta tolong, minta uang, minta sesuatu, semua yang disebut meminta hindari.
Wainkanana haqiron - meskipun hal yang remeh.
minta korek api boleh? masuk!
karena termasuk meminta.
Demikian keterangan annawawi rahimahullah terkait hadits ini.
Naam, dan di sini kita lihat Hakim bin Hizam setelah diperingatkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam kemudian Beliau sama sekali tidak pernah meminta.
Kita kembali ke hadits di atas,
Hakim bin Hizam pernah meriwayatkan Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda,
'Al yadul 'ulya khairun minal yadis suflaa - tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.'
....
Mulailah dari orang yang wajib kalian nafkahi, dan sedekah yang terbaik adalah sedekah di luar kebutuhan.
Jadi kalau kamu butuh, istrimu butuh, anakmu butuh, yang kamu punya jangan kau sedekahkan.
Wong kamu butuh terus gimana?
cukupi dulu kebutuhanmu dan keluargamu sisanya sedekahkan.
dan sedekah yang terbaik adalah sedekah yang dilakukan di luar kebutuhan.
Siapa yang menjaga kehormatan maka Allah akan jaga kehormatannya Siapa yang selalu merasa cukup maka Allah akan berikan kecukupan. Maka orang kalau selalu berharap ingin memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain, selalu berharap seperti itu. dia tidak menjaga Ifah maka Allah buat dia terlalu bergantung kepada yang lain tapi kalau dia selalu menjaga Ifah Allah jadikan dia berkecukupan sehingga tidak bergantung kepada orang lain.
Wallahu 'alam
Baik, dan dulu para ulama mereka punya sifat seperti ini, mereka sangat menjaga Ifah sehingga walaupun di hadapan orang kaya mereka tidak punya keinginan untuk mendapatkan hartanya. Sehingga tidak bisa dikendalikan oleh orang lain yang lebih berharta.
Ada cerita yang kemarin sudah sempat kita singgung di kajian pagi selasa ya,
Salim bin siapa? Abdullah bin Umar. Salim bin Abdullah bin Umar
berarti apanya Umar Bin Khattab?
cucunya Umar Bin Khattab, anaknya Ibnu Umar.
Beliau pernah satu ketika sedang berada di masjid,
lalu Beliau didatangi oleh raja Abdul Malik, Khalifah
Abdul Malik!
datanglah sang raja, menawarkan kepada Imam
Salim,
'salni hajatan - Anda minta apa?
Tolong sampaikan
ke saya, butuh apa sampaikan saja!
Maka Imam Salim rahimahullah mengatakan kepada sang
raja,
Inni astahyi minallah an asala Fi baitihi ghairah
Aku malu kepada Allah ketika aku harus meminta kepada selain Allah, sementara aku berada di rumah Allah.
aku sedang berada di rumah Allah, aku malu kalau aku
harus minta kepada selain Allah.
Masyaallah ya!
enggak kebayang ya,
kalau misalnya
Bapak Ibu sedang berada di Masjidil Haram tiba-tiba
didatangi Raja Salman, Bapak butuh apa?
kira-kira gimana
Pak? hah?
Apa Pak? selfie dulu, sebelum mengajukan
permintaan, selfie dulu!
Jadi ditawari sang raja di masjid tapi Beliau menolak, aku malu kepada Allah ketika aku sedang berada di rumah Allah tapi aku minta kepada selain Allah. Kemudian ketika imam Salim ini keluar dari masjid, maka sang raja mengejarnya. Dikejar oleh sang raja, sampai di luar ditanya lagi sekarang Anda sudah keluar, salni hajatan - silakan minta apa saya kasih!
Lalu Imam Salim bertanya?
Min hawaijid Dunya am hawaijil akhirah - Imam Salim bertanya, permintaan saya untuk urusan dunia atau urusan akhirat? untuk kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?
Jawabanya Min hawaijid dunia - ya tentu saja kebutuhan dunia, Aku enggak punya kebutuhan akhirat,
Lalu Imam Salim mengatakan,
Aamma wallahi inni la as'alud dunya mimman yamlikuha fakaifa as'aluha mimman la yamlikuha - demi Allah aku tidak pernah meminta dunia dari Dzat yang memilikinya. Bagaimana aku minta dunia kepada orang yang tidak memilikinya.
Masyaallah! menang mana? rakyatnya atau rajanya?
Aku tidak pernah minta dunia kepada Dzat yang memilikinya, bagaimana aku meminta dunia kepada orang yang tidak memilikinya. Diam sang raja,!
Ini yang pernah diistilahkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, Beliau pernah bersabda,
Waatuthu dunya wahiya raggimatun! waatuthu dunya wahiya raghimah
Dan dunia datang kepadanya dalam kondisi hina! dunia datang kepadanya dalam kondisi hina.
Sehingga dia lebih mulia menjaga kehormatannya dan Allah jadikan dunia hina di hadapannya!
waathu dunya wahiya raghimatun - dunia datang kepadanya dalam kondisi hina.
Yang seperti ini sahabat punya tapi kita enggak punya!
Ada salah seorang sahabatnya yang ketika diminta untuk membawa surat dari panglima untuk datang menghadap Raja, maka Beliau dihadang, titipkan saja surat ini kepada pengawal Anda silakan pulang karena raja terlalu mulia untuk ketemu dengan orang seperti Anda! pakaiannya kurang bagus.
Maka Beliau sebagai utusan balik, kalau saya tidak diizinkan untuk menghadap, untuk ketemu langsung dengan rajamu aku pulang tak bawa surat ini, enggak jadi! Nah maka pengawalnya balik tanya menyampaikan kepada sang raja, Beliau tidak mau kecuali harus ketemu silakan diajak untuk ketemu!. Masya Allah Pak!
Dalam situasi di kerajaan ya, rajanya di depan kemudian kanan kirinya penuh dengan apa para Perdana Menteri dan orang-orang besar, Beliau maju ke depan sampai menancapkan pedangnya di depan Raja terus suratnya dikasihkan. Sehingga keberanian mereka di hadapan sang raja pada tingkatan tidak merasa rendah di hadapan orang yang punya kekayaan, itulah para sahabat Nabi sallallahu allaihi wasallam.
Makanya Nabi sallallahu allaihi wasallam ketika dikatakan Kepada Beliau ada raja Romawi, ada raja persi yang penuh dengan hidup kemewahan Beliau mengatakakah, 'Apakah kamu tidak merasa bahagia kalau mereka hanya punya dunia sementara kita punya akhirat.'
wallahu 'alam, wasallallahu ala nabiyina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi wasallam.
Insyaallah kita lanjutkan setelah mendengarkan adzan Isya, naam.
Alhamdulilah wa'ala allihi wasahbihi wamawalah, wa asyhadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh
Kita lanjutkan,
Beliau memasuki bab berikutnya,
babun annahyu anil masalah - bab larangan untuk meminta-minta
Hadits nomor 615, hadits Muawiyah radhiallahu Anhu,
Aku mendengar Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا
Siapa yang Allah kehendaki menjadi baik atau mendapatkan kebaikan
يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Maka Allah pahamkan dia dalam masalah agama.
Dan memang kunci kebaikan hamba ada di sini, pengaruhnya luar biasa terutama berkaitan dengan masalah bagaimana bisa mengolah batin, orang yang Paham agama dengan yang tidak paham agama sangat jauh suasananya. Bagaimana tawakalnya, bagaimana sabarnya, bagaimana pasrahnya, bagaimana harapannya, doanya, dan seterusnya.
wa innama anna qasim wallahu yukti - aku hanya membagi,
yang dimaksud Beliau membagi, Beliau hanya menyampaikan, menyampaikan apa yang datang dari Allah,
apa yang datang dari Allah untuk nabiNya Sallallahu Alaihi Wasallam,
ada yang bentuknya ilmu, itulah Wahyu dan ada yang bentuknya harta itulah ghanimah.
wallahu yukti dan Allah yang memberi
Allah yang memberi dan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang membagi. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang membagi.
Membagi di sini maksudnya apa? tergantung bentuk pemberiannya.
Kalau bentuk pemberiannya,
yang pertama bisa berupa Wahyu
maka Beliau yang menyampaikan ilmu
Sehingga ketika Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dapat Wahyu Beliau sampaikan kepada masyarakat dalam bentuk Wahyu tersebut, ilmu.
itulah makna Beliau membagi, Allah yang ngasih. Jika maknanya membagi di sini adalah materi dan yang dimaksud adalah ghanimah maka Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang bagi ghanimah, Allah yang ngasih ghanimah itu. Sehingga Beliau bisa menang lalu dapat ghanimah karena Allah yang memberikan ghanimah kepada Beliau Sallallahu Alaihi Wasalla.
Kemudian hatta ya'tiya amrullah - dan selalu umat ini berada di atas Amrullah - ketetapan Allah ketetapan Allah yang dimaksud adalah aturan Allah, syariat Allah! Umat ini akan selalu, di tengah umat ini akan selalu ada orang yang melaksanakan aturan Allah.
.........., Orang yang tidak setuju dengan mereka, yang tidak pro dengan mereka tidak akan membahayakan keberadaan sekelompok orang tadi sampai datang ketetapan Allah yang dimaksud ketetapan Allah adalah semua mukmin mati di akhir zaman, semua mukmin akan mati di akhir zaman karena ada angin lembut yang angin lembut ini akan mengejar semua mukmin siapapun yang menghirup angin lembut itu dan dalam hatinya ada Iman, illa mata - kecuali dia pasti akan mati.
Baik, di bagian ini Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan tentang fenomena yang terjadi di tengah umat Beliau Sallallahu Alaihi Wasallam.
Umat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam
Di tengah umat Beliau akan selalu ada kelompok yang komitmen dengan ajaran Islam!
Yang komitmen dengan ajaran Islam jumlahnya lebih banyak atau lebih sedikit?
Umat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang komitmen dengan ajaran Islam jumlahnya lebih banyak atau sedikit?
Lebih sedikit!
Di setiap generasi, ini selalu ada komitmen, kelompok yang komitmen dengan ajaran Islam selalu ada di setiap generasi.
Generasi saat ini yang sedang kita alami habis orangnya pada mati,
ganti generasi berikutnya akan ada orang yang komitmen dengan ajaran Islam,
ganti lagi generasi berikutnya terus selalu ada.
Dari sini kita bisa lihat keberadaan,
keberadaan ahlusunnah, keberadaan ya!
keberadaan ahlusunnah itu maksum, terjaga!
Pasti akan selalu ada di tengah umat manusia ahlus sunnah yang berkomitmen dengan ajaran Nabi sallallahu allaihi wasallam.
Generasi ini ada, generasi berikutnya ada, generasi berikutnya lagi ada, akan selalu ada generasi ahlus sunah yang selalu komitmen dengan ajaran Nabi Sallallahu Alaihi wasallam, hatta ya'tiya amrullah. Lalu Beliau mengatakan, 'la yandurruhum Man khalafahum' - Orang yang tidak sepakat dengan mereka tidak akan membahayakan mereka.
itu ada kelompok, ada kelompok yang tidak apa! sejalan, yang tidak sejalan dengan kelompok pertama.
Tidak sejalan di sini ada dua:
- ada yang menentang
Sehingga dia menjadi musuhnya kelompok yang maksum keberadaannya ini. Dia jadi musuh bagi kelompok yang maksum yang dijaga oleh Allah, di setiap generasi pasti ada! ini dalam bahaya, ini kelompok menyimpang, Ahlul batil! kita sebut Ahlul batil - pembawa bendera kebatilan.
- Kelompok kedua adalah tidak peduli
Dalam arti tidak mendukung, sehingga ada kelompok ahlusunnah yang mendakwahkan sunnah, mendakwahkan tauhid, mengajak manusia untuk kembali kepada syariat Islam yang benar, banyak orang yang enggak dukung, banyak orang enggak dukung gimana?
Saya enggak mau ikut campur, enggak mau terlibat daripada rame-rame,
wis sing penting nyambut gawe iso mangan,
mangan turu mati. apalagi?
kalau enggak mati!
dan ini yang dominan, ini yang dominan.
Umumnya masyarakat terhadap masalah agama itu enggak peduli,
enggak peduli dia enggak punya rasa,
sehingga dia melihat adanya, misalnya perseteruan di dunia medsos yang satu bilang A, yang satu bilang B,
dia enggak ikut terlibat sama sekali cuman ya, diam aja!
sebagai pendengar, itupun kalau masih mau mendengarkan.
Tapi kelompok seperti ini dominan.
Kata Nabi Sallallahu Allaihi wasallam, baik kelompok satu maupun kelompok dua, Beliau mengatakan, 'la yandurruhum Man khalafahum' - orang yang tidak setuju dengan mereka, dengan kelompok satu tadi tidak akan membahayakan mereka, Hatta yatiya Amrullah - sampai datang ketetapan Allah di mana semua mukmin akan mati dan itu di akhir zaman.
Maka yang jadi pertanyaan, kita ada di mana?
Kita itu ada di mana? Apakah ada di kelompok satu ataukah kelompok dua?
Karena kelompok satu ini pasti ada Allah yang jaga
Saya masuk di situ enggak Pak?
Kalau kita tidak masuk di situ, inillahi wa innaillaihi rojiun! berarti saya tidak termasuk orang yang dipilih oleh Allah untuk berada di atas Ahlul Haq. Untuk bersama dengan Ahlul Haq.
Walaupun kita tidak melawan mereka, tidak menentang mereka tapi kalau kita berada di kelompok satu walhamdulillah segala puji bagi Allah atas hidayah yang Allah berikan kepada kita sehingga saya ada di barisan orang-orang yang dikatakan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam selalu menjaga kebenaran.
ya, itu masuk kelompok berapa itu?
baik, jadi ee penting untuk kita pikirkan karena yang jaga kebenaran itu akan selalu ada sampai akhir zaman.
Pertanyaannya kita masuk di situ atau tidak?
Kalau tidak, berarti Allah tidak pilih kita untuk bergabung bersama dengan rombongan orang-orang saleh.
Yang berbahaya adalah kalau kita justru berada di kelompok dua, poin A, ini poin A ya! yang dia menentang melawan, menolak membenci, merusak dan gimana caranya biar kebenaran tidak tersebar di masyarakat.
wallahu 'alam
Baik, demikian yang bisa kita sampaikan semoga bermanfaat.
wasallallahu ala Nabiyina Muhammadin wa'ala alihi wasahbihi wasallam
wa akhiru da'wana anilhamdulillahirabbil alamin
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mutiara Hari Ini
"Akan datang suatu hari kematian menjemputku, tinggallah segala apa yang telah kutulis. Oh andai saja setiap yang membacanya berdo'a untukku, agar Allah Ta'ala melimpahkan ampunan untukku, serta memaafkan kekurangan dan buruknya perbuatanku."
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."