بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Kewajiban mendasar yang harus dipahami para pengusaha adalah sadar akan akhirat, maksudnya adalah bahwasanya semua yang kita lakukan akan dihisab kelak baik itu harta yang diperoleh dan harta yang dibelanjakan, sebagaimana Allah سبحانه و تعالى berfirman;
مَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ
Artinya: Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).[Surat At-Takatsur Ayat 8]
Kemudian dalam hadits dijelaskan tentang perkara yang akan ditanya kelak diakhirat
نْ أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ».
[صحيح]
نَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ يَسْبِقُونَ الأَغْنِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى الْجَنَّةِ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا
“Sesungguhnya kaum muhajirin yang miskin, mereka mendahului masuk surga pada hari kiamat, 40 tahun sebelum orang kaya.” (HR. Ahmad 6735, Muslim 7654, dan Ibnu Hibban 678).
Bahkan ada sebagian sahabat yang memilih hidup miskin bukan karena tidak mampu akan tetapi agar bebannya kelak ketika hisab lebih ringan, maka setidaknya kita berusaha agar harta yang diperoleh tidak menjadi masalah kelak di akhirat.
wallahu 'alam