بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Hadist Dhoif Seputar Ramadhan #2
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Sabtu, 30 Maret 2024
🏢 Studio ANB Channel, Krajan, Sleman
Pada prinsipnya seorang muslim dalam beramal harus ada panduan dalam 2 hal:
1. Urusan dunia, manusia bebas berinovasi sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ.
نْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ
“Kalian lebih mengetahui tentang perkara dunia kalian.” ([6])
([6]) HR. Muslim No.2363
2. Urusan akhirat, harus sesuai Al-Quran & Hadits sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى dalam surat An-Nisa Ayat 64;
مَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُوا۟ ٱللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا
Artinya Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dalam sebuah hadits disebutkan;
نْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).
Nabi ﷺ bersabda,
رَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).
Pelanggaran mungkin terjadi ketika beramal karena tidak ada landasan sama sekali, inovasi dalam ibadah sama dengan membuat syariat baru sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى
مْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah” (QS. Al Ahzab 21).
Alasan membuat syariat baru
1. Berdasarkan pengalaman karena ada manfaat duniawi,
alasan tersebut justru makin menguatkan jika amalan baru tersebut bukan syariat, karena syariat itu tujuan utamanya manfaat akhirat walaupun terkadang ada manfaat dunianya. Bahkan hal yang tercela adalah mengharapkan dunia semata dari amal akhiratnya, Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Surat Asy-Syura Ayat 20
ن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلْءَاخِرَةِ نَزِدْ لَهُۥ فِى حَرْثِهِۦ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
Artinya Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
Semisal Shalawat nariyah dibaca 4.444, jika diamalkan seluruh hajatnya akan terpenuhi, padahal shalawat ini tidak ada dalilnya namun berdasarkan pengalaman
2. Membuat keterangan palsu berupa hadits palsu tentang fadhilah amal (dusta atas nama Nabi ﷺ ) karena dengan ada dalil walaupun palsu maka menjadi ideologi
Syarat mengamalkan hadits dhaif oleh Al hafidz Ibnu Hajar
1. Dhaifnya tidak parah
2. Ada landasan yang bisa diamalkan dari Al Quran maupun hadits shahih (hadits dhaif terkait fadhilah amal)
3. Tidak meyakini bahwa ini valid dari Nabi ﷺ (masih ada kemungkinan jika shahih maka berpahala)
Teks hadits
“Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat dalam bulan Ramadhan, maka sungguh mereka akan berharap satu tahun itu Ramadhan penuh. Sesungguhnya surga berhias menyambut Ramadhan setiap tahunnya”
Hadits ini palsu
wallahu 'alam