بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Ustadz Ammi Nur Baits حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ Senin, 14 Agustus 2023
🏢 Studio ANB Channel, Yogyakarta
Ada 3 materi dalam pembahasan kajian hari ini
1. Hukum asal hutang
Hukum asalnya adalah mubah, sebagaimana Nabi ﷺ pernah berhutang karena tanggung jawab beliau untuk menafkahi keluarganya, sebagaimana hadits, dari Aisyah binti Abi Bakar -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwasanya Rasulullah ﷺ membeli makanan dari seorang Yahudi dan menggadaikan baju besi(nya). (Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)
Hutang (transaksi tidak tunai) meliputi 3 hal diantaranya ;
a. Uang - tidak boleh ada keuntungan, jika ada keuntungan maka riba
b. Barang (akad salam) - boleh ada keuntungan
c. Jual beli kredit dengan pembayaran tempo - boleh ada keuntungan
Pembeda utama antara jual beli dengan riba adalah mobilisasi obyek berupa barang dan uang, jika ada barang dan uang maka boleh, namun jika uang saja maka terlarang. Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 275;
لَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
Artinya Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
2. Kezhaliman dalam hutang
Kreditur ; menetapkan imbalan dalam pinjamannya (riba)
Debitur ; tidak bayar hutang, menunda pembayaran hutang
Allah سبحانه و تعالى berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 188;
لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.
Nabi ﷺ bersabda,
“Penundaan (pembayaran hutang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kelaliman, maka jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya maka ikutilah.”[1]
[1] HR. Bukhari
Dalam muamalah, membayar hutang didahulukan daripada membayar zakat.
Pelanggaran dalam akad Hutang
a. Riba Hal ini berdasarkan ucapan sahabat Fudholah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu,
ل قرض جر منفعة فهو ربا
“Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan, maka itu adalah riba.” (Ucapan Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Baihaqi)
b. Hilah riba ; kamuflase untuk menampakkan seolah olah transaksi halal namun hakikatnya terlarang, dengan melakukan 2 transaksi dengan obyek yang sama (praktek ‘inah)
A menjual HP secara kredit (jangka waktu 1 tahun) ke B seharga 5 juta, kemudian
B menjual HP secara tunai ke A seharga 4 juta
3. Menggabungkan hutang dengan akad komersil yang lainnya
Termasuk terlarang dalam akad hutang dasarnya adalah hadits berikut
Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah halal transaksi utang-piutang yang dicampur dengan transaksi jual beli, tidak boleh ada dua syarat dalam satu transaksi jual beli, tidaklah halal keuntungan yang didapatkan tanpa adanya tanggung jawab untuk menanggung kerugian, dan engkau tidak boleh menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Daud, no. 3506; hadits hasan)
Wallahu’alam
Semoga bermanfaat
Barakallahu fikum